Sementara itu, Anggota Panitia Seleksi Anggota Komisi Nasional Disabilitas, Bahrul Fuad menyampaikan keterlibatannya sebagai penilai memberikan banyak pembelajaran, terutama dalam merancang tes yang mengakomodasi berbagai ragam disabilitas.

"Secara pribadi saya banyak belajar berkaitan dengan bagaimana mendesain ujian atau tes yang mengakomodasi semua ragam disabilitas," kata Bahrul.

Sebagai aktivis gerakan disabilitas, ia mengaku senang dan terhormat mendapat kesempatan terlibat langsung dalam memilih calon anggota KND. Menurutnya, anggota KND bertanggung jawab besar sekaligus mulia dalam memastikan pemenuhan hak penyandang disabilitas di Indonesia.

Bahrul menjelaskan meski masih terdapat hal-hal yang perlu dievaluasi dan diperbaiki, ia memandang proses ini sebagai pembelajaran bagi pengembangan tes yang inklusif dan aksesibel.

"Tapi ini adalah semacam pilot project untuk tes yang inklusif dan aksesibel bagi penyandang disabilitas," ujarnya.

Di sisi lain, Anggota Panitia Seleksi Anggota Komisi Nasional Disabilitas, Abdul Muis mengatakan TOBK diadakan untuk menguji pengetahuan dan menggali pemikiran peserta.

"Kami ingin bahwa secara basis pengetahuan atau kognisi dari calon anggota KND adalah memiliki pengetahuan tentang kebijakan dan peraturan perundang-undangan serta implementasinya. Ini penting sekali untuk mengadvokasi nantinya terkait dengan aspirasi maupun pelaksanaan dari penghormatan disabilitas di Indonesia," tegasnya.

Selain penguasaan pengetahuan, Muis menekankan pentingnya kemampuan berpikir kritis untuk melahirkan gagasan baru bagi KND.

"Kami menginginkan kompetensi critical thinking untuk menggali ide-ide yang segar, inovasi dalam melakukan advokasi maupun inovasi-inovasi yang bersifat terobosan, yang bersifat transformatif untuk KND ke depan," tutupnya.