NADIKABAR.COM — tetangga gegara pembakaran sampah di Jalan Lesti, Kelurahan Ngaglik, Kecamatan Batu, Kota Batu, memasuki babak baru. Ada perbedaan keterangan tim redaksi polisi dan warga yang mengunggah video kejadian tersebut.

Polisi menyebut kedua pihak telah dimediasi dan berdamai, sedangkan Novrinia Indraswari membantah pernah mengikuti mediasi maupun bertemu dengan tetangganya untuk menyelesaikan persoalan itu.

Di tengah perbedaan versi tersebut, pihak Kelurahan Ngaglik memberikan penjelasan mengenai proses yang telah dilakukan setelah video cekcok tersebut ramai diperbincangkan, termasuk pertemuan dengan pihak pembakar sampah dan upaya mengundang Novrinia untuk mengikuti mediasi bersama.

Kapolsek Batu AKP Muhammad Subhan menyebut, persoalan cekcok antar-tetangga tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan setelah kedua pihak dipertemukan di Balai Kelurahan Ngaglik. Polisi menyebut, masing-masing pihak telah menyadari kekhilafan dan sepakat tidak membawa persoalan itu ke ranah hukum.

Polisi juga menyebut pihak yang membakar sampah telah berjanji tidak mengulangi aktivitas yang dapat mengganggu kenyamanan dan kesehatan warga sekitar, terutama balita di lingkungan tersebut.

"Terkait video Ngaglik udah di mediasi dua belah pihak saling menerima dan saling bermaaf-maafan, sudah dikumpulkan di balai kelurahan," ujar Kapolsek Batu AKP Muhammad Subhan kepada NadiKabar, Minggu (6/9/2026).

Pernyataan polisi tersebut dibantah Novrinia Indraswari yang mengaku belum pernah mengikuti mediasi ataupun bertemu dengan tetangganya untuk membahas persoalan pembakaran sampah tersebut.

Bahkan, ia mengaku terkejut ketika mengetahui adanya informasi bahwa dirinya disebut telah dikumpulkan di Balai Kelurahan Ngaglik. Novrinia juga mengatakan rencana jajaran Polsek Batu untuk mendatangi rumahnya guna mengambil keterangan sekaligus memfasilitasi komunikasi belum terlaksana.

"Belum sama sekali, ngarang banget kalau dibilang sudah mediasi," ujar Novrinia Indraswari.

Novrinia mengatakan, hingga saat ini belum ada pertemuan yang membahas penyelesaian persoalan tersebut secara langsung, sementara rencana polisi untuk mendatangi rumahnya pada Sabtu (5/9/2026) juga disebut tidak terlaksana dan tidak ada komunikasi lanjutan dari pihak kepolisian.

Ia menegaskan belum ada titik temu maupun kesepakatan damai yang dibuat, baik di Balai Kelurahan Ngaglik maupun tempat lainnya.

"Pihak polsek yang rencananya mau nemuin saya kemarin (Sabtu 5 September 2026) juga tidak datang dan tidak ngehubungi lagi," tegasnya.

Lurah Ngaglik Ervan menjelaskan, pihak kelurahan memang telah memanggil pria yang membakar sampah bersama istrinya ke kantor kelurahan pada Kamis (3/9/2026), tetapi pertemuan tersebut baru dihadiri pihak pembakar sampah sehingga belum merupakan mediasi kedua belah pihak.

Dalam pertemuan itu, pihak kelurahan memberikan klarifikasi dan pengarahan agar aktivitas pembakaran sampah tidak kembali dilakukan karena dinilai mengganggu lingkungan sekitar.

"Hari Kamis itu rencana kami mediasi. Terduga pelaku pembakaran bersama istrinya kami panggil ke kantor kelurahan. Kami beri klarifikasi dan pengarahan agar tidak mengulang lagi. Mereka menyadari kesalahan dan sanggup untuk tidak membakar sampah lagi," ujar Ervan.

Setelah pihak pembakar sampah mengakui kesalahannya, Ervan menugaskan perangkat kelurahan bersama Ketua RT dan RW setempat untuk mendatangi rumah Novrinia guna mengundangnya mengikuti mediasi, tetapi rumah dalam kondisi kosong sehingga komunikasi kemudian dilakukan melalui telepon.

Ervan membantah adanya tekanan agar Novrinia datang seorang diri atau langsung menghapus video, dan menyebut saran untuk menghapus video hanya disampaikan jika kedua pihak telah sepakat dan saling memaafkan.

"Teman-teman menyampaikan tujuan kumpul di kantor untuk mediasi mencari titik tengah. Kalau sepakat dan saling memaafkan, disarankan bisa me-take down video agar tidak makin ramai. Jadi bukan menekan," jelas Ervan.

Ervan membantah pihak kelurahan pernah melarang Novrinia datang bersama suaminya dalam proses mediasi, setelah Novrinia disebut menyampaikan bahwa dirinya baru bisa hadir apabila didampingi suami yang saat itu masih bekerja.

Pihak kelurahan kemudian disebut memberikan kesempatan agar Novrinia datang pada hari berikutnya bersama suaminya, sehingga Ervan menilai informasi bahwa Novrinia diminta datang sendiri dan saat itu juga tidak tepat.

"Mbaknya bilang hari itu tidak bisa karena harus didampingi suami yang masih kerja. Staf kami menjawab tidak apa-apa jika mau datang besoknya (Jumat) bersama suami. Jadi kurang tepat kalau dibilang harus datang saat itu juga dan sendirian," tutur Ervan.

Ervan mengaku telah berupaya menjalin komunikasi langsung dengan Novrinia dan bahkan menawarkan diri datang ke rumah untuk memfasilitasi dialog secara kekeluargaan, tetapi upaya tersebut belum membuahkan hasil karena Novrinia masih berhalangan dan belum memberikan respons kembali.

Kelurahan Ngaglik berharap kedua pihak dapat kembali berkomunikasi dan duduk bersama dalam mediasi tertulis agar persoalan tidak berlarut-larut serta kerukunan antar-tetangga tetap terjaga.

"Saya sebagai pihak yang netral ingin warga rukun. Kalau perlu nanti ada hitam di atas putih, pelaku mengakui kesalahan dan tidak mengulang lagi. Kami berharap kedua pihak mau berkomunikasi dan bertemu untuk mediasi," tandasnya.