Isti'adzah yang ketiga adalah memohon perlindungan kepada Allah dari "jiwa yang tidak pernah puas". Jiwa yang tidak pernah puas disebut dengan tamak. Sedangkan kebalikannya adalah jiwa yang qana'ah. Hal ini sebagaimana dijelaskan Al-Qadhi 'Iyyadl:

التي لا تَقنَع بما رزَقَها الله، ولا تزال مُتطلعةً إلى الدنيا

"Yaitu jiwa yang tidak merasa cukup terhadap rezeki yang Allah telah bagikan, dan terus-menerus menginginkan kenikmatan dunia."

Dari sini, mari kita perhatikan, bukankah huru-hara, korupsi, perang, dan segala bentuk kerusakan di bumi ini, tidak lain adalah disebabkan jiwa-jiwa yang serakah, yang tamak, yang tak pernah bersyukur, dan tak pernah merasa cukup dengan pemberiaan Allah.

Isti'adzah yang keempat, yang terakhir, adalah berlindung dari "doa yang tidak didengar". Artinya, bukannya Allah tidak mendengar doa kita-karena Allah Maha Mendengar, Allah mendengar segala sesuatu-yang dimaksud di sini adalah Allah tidak mengabulkan doa kita.

Kalau doa tidak dikabulkan, dipastikan ada rasa kecewa dalam diri seseorang. Sebaliknya, jika doanya dikabulkan, tentu akan merasa senang. Lantas, apakah penyebab doa tidak diterima Allah?

Jawabannya adalah tiga hal yang menjadi penyebabnya. Pertama, sebab harta yang diperoleh dari cara yang haram. Kedua, sebab melakukan kezaliman kepada orang lain. Ketiga, sebab lalai atau tidak yakin saat berdoa. Karena itu, tiga hal ini harus diperhatikan dengan saksama. Jangan sekadar membaca doa, melainkan juga harus menjauhi sebab-sebab yang membuat doa tersebut tidak dikabulkan.

Demikian inilah empat isti'adzah atau permohonan perlindungan kepada Allah, yang dilakukan oleh Nabi SAW supaya dihindarkan darinya.

Jika kita perhatikan dari urutan hadis di atas, kita dapat menyimpulkannya bahwa; ilmu yang tidak bermanfaat akan melahirkan hati yang tidak khusyuk; hati yang tidak khusyuk akan menumbuhkan jiwa yang rakus; dan jiwa yang rakus akan menghalangi terkabulnya doa.

Demikianlah yang bisa khatib sampaikan. Semoga ilmu kita bermanfaat, hati kita khusyuk, jiwa kita qana'ah, dan doa kita diterima dan dikabulkan oleh Allah SWT. Amin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: Dr Alvian Iqbal Zahasfan, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Metodologi, Dosen Pascasarjana UIN Jakarta

Sumber: Laman resmi Majelis Ulama Indonesia (MUI)

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Amma ba'du. Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Marilah kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala yang telah melimpahkan nikmat iman dan Islam. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, teladan abadi, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam.

Wasiat takwa tak henti-hentinya saya sampaikan, karena takwa adalah sebaik-baik bekal. Takwa bukan sekadar lisan yang berdzikir, tetapi hati yang tunduk dan perbuatan yang menjauhi larangan-Nya, baik saat sendiri maupun di tengah keramaian.

Hadirin jamaah Jum'at yang dimuliakan Allah, Hari ini, kita menyaksikan sebuah fenomena yang memprihatinkan di tengah umat. Banyak orang berlomba-lomba mengejar jabatan dan posisi kepemimpinan, namun sedikit yang memahami esensi dari amanah tersebut.

Kita sering melihat pola kepemimpinan yang feodal, di mana pemimpin memosisikan diri sebagai "raja" yang harus dilayani, bukan sebagai "pelayan" yang melayani. Mentalitas minta dilayani ini telah mengakar, menciptakan jarak tim redaksi pemimpin dan rakyat, tim redaksi atasan dan bawahan, bahkan tim redaksi ulama dan umat.

Padahal, kita memiliki sosok agung, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Beliau adalah pemimpin negara, panglima perang, sekaligus imam besar. Namun, apakah beliau hidup di istana megah dengan pelayan yang berbaris? Tidak. Beliau menambal bajunya sendiri, memerah susu kambingnya sendiri, dan duduk sama rendah dengan para sahabatnya. Inilah tema khutbah kita hari ini: "Rasulullah sebagai Role Model: Kepemimpinan Nabi yang Melayani, Bukan Minta Dilayani."

Ma'asyiral muslimin, Landasan utama kepemimpinan Nabi adalah kasih sayang dan kelembutan. Beliau tidak memimpin dengan tangan besi atau arogansi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan karakter ini dalam Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 159:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

"Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal." (QS. Ali 'Imran: 159).

Ayat ini menjelaskan bahwa soft skill atau kelembutan hati adalah modal utama seorang pemimpin. Kata 'fazzan' (bersikap keras) dan 'ghalidzal qalbi' (berhati kasar) adalah sifat yang dibenci dalam Islam bagi seorang pemegang amanah.

Rasulullah melayani umatnya dengan mendengarkan keluh kesah mereka, memaafkan kesalahan mereka, dan mengajak mereka bermusyawarah. Ini adalah bentuk pelayanan psikologis dan emosional yang luar biasa dari seorang pemimpin kepada rakyatnya.

Sebagai penguat, mari kita renungkan doa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bagi para pemimpin umat. Beliau memberikan ancaman sekaligus harapan dalam hadits riwayat muslim:

اللَّهُمَّ مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ فَارْفُقْ بِهِ

"Ya Allah, barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia. Dan barangsiapa yang mengurusi urusan umatku, lalu ia menyayangi (berlemah lembut) kepada mereka, maka sayangilah dia." (HR. Muslim, No. 1828).

Hadits ini mengandung doa mustajab dari Nabi. Ini adalah peringatan keras bagi siapa saja-baik kepala keluarga, ketua RT, pejabat, hingga pemimpin negara-yang menggunakan kekuasaannya untuk mempersulit urusan orang lain demi minta dilayani atau dihormati. Sebaliknya, pemimpin yang melayani dan memudahkan urusan orang lain didoakan langsung oleh Nabi agar Allah memudahkan hidupnya.

Jamaah yang berbahagia, Bukti nyata bahwa Nabi melayani dan bukan minta dilayani terlihat dari keseharian beliau di dalam rumah. Seringkali, karakter asli seseorang terlihat saat ia berada di rumahnya. Allah memerintahkan Nabi untuk merendahkan hati, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Asy-Syu'ara ayat 215:

وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

"Dan rendahkanlah hatimu (berbuat baiklah) terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman." (QS. Asy-Syu'ara: 215).

Perintah "Wakhfidz janahaka" (rendahkanlah sayapmu) adalah metafora indah tentang perlindungan, pengayoman, dan pelayanan tanpa batas atau sekat status sosial.

Bagaimana implementasinya? Lihatlah kesaksian istri beliau, Aisyah Radhiyallahu 'anha, dalam Hadits Riwayat Al-Bukhari:

سَأَلْتُ عَائِشَةَ مَا كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْنَعُ فِي بَيْتِهِ؟ قَالَتْ: كَانَ يَكُونُ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ، تَعْنِي خِدْمَةَ أَهْلِهِ، فَإِذَا حَضَرَتِ الصَّلَاةُ خَرَجَ إِلَى الصَّلَاةِ

"Aku (Al-Aswad) bertanya kepada Aisyah: 'Apa yang biasa dilakukan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam rumahnya?' Aisyah menjawab: 'Beliau biasa membantu pekerjaan keluarganya (melayani keluarganya). Namun, jika waktu shalat tiba, beliau segera keluar untuk shalat.'" (HR Bukhari, No 676)

Bayangkan, seorang Rasul pilihan Allah tidak gengsi menjahit bajunya yang robek, memperbaiki sandalnya, atau membantu pekerjaan rumah tangga. Beliau tidak duduk manis menunggu dilayani istri atau sahabatnya. Jika kepada keluarga saja beliau melayani, apalagi kepada umatnya. Inilah Role Model sejati.

Lalu, apa solusinya bagi kita? Solusinya adalah menanamkan mindset bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab (mas'uliyyah), bukan kemuliaan (tasyriif). Kita harus kembali meneladani beliau secara utuh. Allah berfirman dalam Surah Al-Ahzab ayat 21:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah." (QS. Al-Ahzab: 21).

Meneladani beliau berarti siap capek, siap berkorban, dan siap melayani. Sebagai motivasi akhir di khutbah pertama ini, ingatlah sabda Nabi tentang hakikat setiap kita adalah pemimpin yang akan diaudit kinerjanya:

كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، الْإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ فِي أَهْلِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

"Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Seorang imam (kepala negara/wilayah) adalah pemimpin dan akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin di keluarganya dan ia akan diminta pertanggungjawaban atas keluarganya..." (HR. Bukhari, No. 893 & Muslim, No. 1829).

Semoga kita semua dijauhkan dari sifat sombong dan gila hormat, serta dianugerahi hati yang tulus untuk melayani sesama semata-mata karena Allah.

بَارَكَ اللُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ. أَقُولُ قَوْلِي هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللِ، اتَّقُوا اللَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah, Sebagai ringkasan dari khutbah ini, mari kita tanamkan dalam hati bahwa jabatan, harta, dan kedudukan hanyalah titipan sesaat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang bukan terletak pada seberapa banyak orang yang melayaninya, tetapi seberapa besar manfaat dan pelayanan yang ia berikan kepada orang lain. Sayyidul qaumi khadimuhum (Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka).

Mari ubah orientasi hidup kita: dari mentalitas "ingin dilayani" menjadi mentalitas "siap melayani" demi meraih ridha Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Marilah kita menundukkan kepala dan hati, memohon kepada Allah agar negeri ini dikaruniai para pemimpin yang melayani rakyatnya dengan tulus, serta agar kita dijaga dari fitnah kekuasaan.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اللَّهُمَّ وَلِّ عَلَيْنَا خِيَارَنَا، وَلَا تُوَلِّ عَلَيْنَا شِرَارَنَا. اللَّهُمَّ لَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا بِذُنُوبِنَا مَنْ لَا يَخَافُكَ فِينَا وَلَا يَرْحَمُنَا

(Ya Allah, angkatlah untuk kami pemimpin-pemimpin yang terbaik di tim redaksi kami, dan janganlah Engkau angkat pemimpin yang buruk di tim redaksi kami. Ya Allah, janganlah Engkau kuasakan kepada kami-disebabkan dosa-dosa kami-orang yang tidak takut kepada-Mu dan tidak menyayangi kami).

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللِ أَكْبَرُ، وَاللُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Wasssalamu'alaikum Warahmatulahi Wabarakatuh

Sumber: Laman resmi Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang

الَسَّلامُ عَليْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُه

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ, وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَّهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُّضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ, وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ, وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

قَالَ تَعَالَى: (يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ).

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى أَسَاسُ الْعَدْلِ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاحِ.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Setiap bangsa mendambakan kemerdekaan. Namun, kemerdekaan sejati bukan sekadar bebas dari penjajahan fisik, melainkan bebas dari ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan. Dalam pandangan Islam, kemerdekaan sejati hanya dapat terwujud apabila keadilan ditegakkan, khususnya oleh para pemimpin.

Islam memandang kepemimpinan sebagai amanah besar yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Seorang pemimpin tidak hanya diminta untuk berkuasa, tetapi dituntut untuk berlaku adil kepada seluruh rakyat tanpa membedakan suku, status, maupun kepentingan pribadi.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Marilah kita perhatikan perihal menyangkut keadilan sebagai berikut:

Pertama, keadilan sebagai ruh kemerdekaan.Dalam pandangan Islam, kepemimpinan adalah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Kemerdekaan tanpa keadilan hanya akan melahirkan penjajahan bentuk baru, di mana yang kuat menindas yang lemah.

Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 90:

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran."

Ayat ini menegaskan bahwa perintah pertama Allah kepada manusia, terutama para pemegang urusan (pemimpin), adalah berlaku adil. Adil bukan berarti sama rata, melainkan meletakkan sesuatu pada tempatnya dan memberikan hak kepada pemiliknya tanpa diskriminasi.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Kedua, pemimpin adil adalah naungan Allah. Kemerdekaan sejati tercapai saat masyarakat merasa aman karena pemimpinnya takut kepada Allah. Rasulullah SAW memberikan kabar gembira dalam sebuah hadis shahih, beliau bersabda:

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللّٰهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلاَّ ظِلُّهُ: ... الإِمَامُ الْعَادِلُ .....

"Ada tujuh golongan yang akan dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: ... (salah satunya adalah) Pemimpin yang adil...." (HR Bukhari dan Muslim)

Hadits ini menunjukkan betapa tingginya derajat pemimpin yang mampu menjaga keadilan di tengah godaan kekuasaan yang luar biasa.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

Ketiga, pesan sahabat dan ulama. Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu pernah memberikan nasihat emas terkait keberlangsungan sebuah bangsa. Beliau menegaskan: "Sebuah negara yang kafir bisa bertahan jika ia adil, namun sebuah negara yang beriman (muslim) akan hancur jika ia zalim."

Kalimat ini mengandung makna mendalam bahwa keadilan adalah hukum alam (sunnatullah) untuk stabilitas sebuah bangsa. Jika pemimpin bertindak adil, maka rakyat akan merasa merdeka secara batiniah. Mereka merdeka dari rasa takut, merdeka dari kelaparan, dan merdeka dari perlakuan semena-mena.

Keempat, implementasi keadilan dalam berbangsa. Setiap pemimpin yang membawa kemerdekaan sejati adalah mereka yang mengutamakan kepentingan umum di atas kepentingan pribadi, kelompok atau golongan; mereka yang menjaga lisan dan tindakan dari perbuatan korupsi yang merampas hak rakyat; dan mereka yang mendengarkan keluh kesah masyarakat paling bawah.

Ma'asyiral muslimin rahumakumullah,

إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ

"Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan." (QS. An-Nahl: 90)

Ayat ini menegaskan bahwa keadilan adalah perintah langsung dari Allah, bukan pilihan, apalagi sekadar slogan. Tanpa keadilan, kemerdekaan hanya menjadi kata-kata, sementara rakyat tetap terbelenggu oleh ketimpangan dan ketidakpastian.

إِنَّ الْمُقْسِطِينَ عِنْدَ اللّٰهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ

"Sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil kelak berada di atas mimbar-mimbar cahaya di sisi Allah." (HR Muslim)

Hadis ini menunjukkan kemuliaan kedudukan pemimpin yang adil, baik dalam keputusan dan kebijakan maupun dalam memperlakukan rakyatnya.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Sejarah mencatat bahwa kehancuran suatu bangsa sering kali bermula dari rusaknya keadilan para pemimpin. Ketika hukum tajam ke bawah namun tumpul ke atas, ketika kepentingan pribadi dan golongan mengalahkan kepentingan rakyat, maka saat itulah kemerdekaan sejati sirna.

Namun, jamaah sekalian, keadilan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemimpin. Rakyat pun memiliki kewajiban menjaga keadilan, dengan tidak berbuat zalim, tidak menyebarkan kebencian, serta tidak mendukung kezaliman dalam bentuk apa pun.

Kemerdekaan sejati lahir ketika pemimpinnya menjalankan amanah dengan jujur; ketika hukum ditegakkan tanpa pandang bulu; dan ketika rakyat dapat hidup aman, sejahtera, dan bermartabat.

Jika keadilan hilang, maka sejatinya kita masih terjajah, meskipun negeri ini telah merdeka secara administratif.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita dukung terciptanya keadilan ini mulai dari unit terkecil, yakni kepemimpinan dalam diri sendiri dan keluarga. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada bangsa kita pemimpin-pemimpin yang jujur, amanah, dan adil, sehingga kemerdekaan yang kita nikmati saat ini benar-benar membawa keberkahan dan kemaslahatan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mari kita tegakkan keadilan dalam diri kita sendiri, dalam rumah tangga kita, hingga pada akhirnya Allah SWT menghadirkan pemimpin-pemimpin yang adil di tengah-tengah kita.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga negeri kita, Indonesia, dan menjadikannya negeri yang "Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur"-negeri yang subur, makmur, adil, dan senantiasa berada dalam ampunan Allah SWT. Amiin ya Rabbal 'Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآ يَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Oleh: Dr KH Ahmad Suja'i Mughni, MM, Ketua 1 MUI Kota Tangerang

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ. اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَلِعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ وَخَلِيْلُهُ، خَيْرُ نَبِيٍّ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَى الْعَالَمِ كُلِّهِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ , أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ , قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ.: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Mengawali khutbah Jumat ini, marilah kita senantiasa mengingat akan segala anugerah yang telah dikaruniakan Allah swt kepada kita. Untuk kemudian kita syukuri dan gunakan di jalan kebaikan serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah.

Pada kesempatan ini, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah ta'ala dengan melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Beribadah kepada Allah akan menjadi manifestasi ketakwaan kita.

Sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur'an:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: "Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS Al Baqarah ayat 21)

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,Kita mungkin pernah mendengar sebuah kalimat: jika hidup kita ingin dipermudah, maka mudahkanlah urusan orang lain. Kalimat ini ternyata tidaklah sembarang kalimat. Tetapi disarikan dari salah satu sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah RA:

مَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ

Artinya: "Siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat." (HR Imam Muslim)

Di dalam kitab Kitab Al-Jawahirul Lu'luiyah Fi Syarhil Arbain An-Nawawiyah (Darul Minhaj, 1443 H / 2022 M, hal. 510), Syekh Muhammad bin Abdullah Al-Jurdani menerangkan bahwa kemudahan yang didapat di dunia dan akhirat tersebut, juga meliputi berbagai urusan dan apa yang diperlukan di dalam keduanya.

سَهَّلَ عَلَيْهِ أُمُوْرَهُ وَمَطَالِبَهُ فِيْهِمَا، مُجَازَاةً وَ مُكَافَأَةً لَهُ بِجِنْسِ عَمَلِهِ كَمَا مَرَّ

Artinya, "Dipermudah baginya segala urusan dan keperluannya di dalam keduanya (dunia akherat). Sebagai balasan dan ganjaran baginya, sesuai dengan jenis amal perbuatannya,"

Ma'asyiral muslimin rahimakumullah,Namun, jamaah sekalian, yang perlu kita perhatikan ketika ingin memudahkan urusan orang lain adalah hendaknya semua itu dilakukan dalam perkara kebaikan. Jangan kita anggap remeh kebaikan sekecil apa pun. Menata sandal di masjid agar saudara kita mudah menemukannya ketika pulang pun termasuk kebaikan.