Begitu pula dalam perkara yang lebih besar, seperti seorang pemimpin yang membuat kebijakan yang tidak menyusahkan rakyatnya. Bahkan dalam pekerjaan kita sehari-hari, seperti seorang polisi yang membantu orang menyeberang dan mengatur lalu lintas agar tidak terjadi kemacetan, semuanya merupakan bentuk kebaikan.

Maka, jangan menunggu memiliki kedudukan atau harta untuk berbuat baik. Karena setiap kita memiliki kesempatan untuk memudahkan urusan orang lain, dan setiap kebaikan itu insyaallah bernilai di sisi Allah.

Perintah untuk memudahkan orang lain dan juga saling membantu dalam kebaikan ini juga telah termaktub dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

Artinya, "Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya. (QS Al-Maidah ayat 2)

Dari ayat tersebut, KH Bisri Mustofa dalam Tafsir Al-Ibriz Juz 6 hal. 270 mengartikan larangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan aniaya. Tindakan dosa dan aniaya ini semisal, orang yang memberi suap untuk memudahkan atau meloloskan orang lain melakukan kejahatan. Juga bersekongkol dalam hal urusan atau perbuatan merusak alam. Semua hal tersebut, akan mendapatkan balasan dari Allah SWT.

Oleh karena itu, bahwa kalimat mempermudah urusan orang lain ini, tidaklah kita telan mentah-mentah. Tetapi dapat kita laksanakan dalam hal kebaikan. Dengan melaksanakan hal tersebut, kita juga akan menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain.

Ma'asyiral muslimin rahimakumullahSudah semestinya kita hidup berdampingan dan saling peduli satu sama lain. Apabila ada orang lain yang mengalami kesulitan, hendaknya kita ikut membantu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan kita. Salah satunya dengan mempermudah orang lain, dan membuat mereka merasa bergembira.

Hal ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad saw yang diriwayatkan oleh Imam Thabrani dari Abdullah bin Umar ra. Hadits ini termaktub pula dalam kitab Nashaihul Ibad (Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Bantani Al-Jawi, Nashaihul Ibad, hal. 4):

أَحَبُّ الْعِبَادِ إلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُ النَّاسِ لِلنَّاسِ، وَأَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إدْخَالُ السُّرُورِ عَلَى قَلْبِ الْمُؤْمِنِ، يَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كَرْبًا أَوْ يَقْضِي لَهُ دَيْنًا

Artinya, "Hamba yang paling disukai oleh Allah adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia. Dan amalan yang paling utama adalah memasukkan kegembiraan ke dalam hati orang mukmin, dia usir rasa lapar dari orang mukmin atau dia hilangkan kesusahan dari orang mukmin atau dia bayarkan hutang bagi orang mukmin,"

Demikianlah khutbah, agar kita senantiasa mempermudah urusan orang lain, khususnya dalam hal kebaikan. Dengan mempermudah urusanorang lain, insyaallah urusan kita juga akan dipermudah oleh Allah SWT, di dunia dan akhirat.

Untuk menutup khutbah ini, marilah kita berdoa agar Allah senantiasa memberikan keberkahan, kesehatan dan kemudahan kepada kita semua, agar kita dan seluruh keluarga kita dapat melaksanakan kebaikan-kebaikan yang telah diperintahkan oleh Allah, serta dijauhkan dari segala perkara yang dapat mendatangkan azab dan bencana. Amin ya Rabbal Alamin.

بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ، فَاعْتَبِرُوْا يَآ أُوْلِى اْلأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ، وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ: وَالْعَصْرِ. إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ. إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْر إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِى الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ،

Oleh: Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan tercermin melalui ibadah yang kita tunaikan, dalam cara kita memperlakukan sesama manusia, menjaga lingkungan, serta menghadirkan manfaat ketika orang lain berada dalam kesulitan.

Selawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, kepada keluarga, para sahabat, dan seluruh umat yang mengikuti jalan beliau hingga akhir zaman.

Hidup di Indonesia berarti hidup berdampingan dengan berbagai kemungkinan bencana. Gempa bumi, letusan gunung api, tsunami, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem, hingga kebakaran hutan dan lahan merupakan bagian dari risiko yang harus kita hadapi bersama.

Dalam beberapa waktu terakhir, kenyataan tersebut kembali berada dekat dengan kehidupan kita. Pada Agustus 2026, sejumlah wilayah Indonesia menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kekeringan, cuaca ekstrem, serta banjir. Pada saat yang hampir bersamaan, aktivitas kegempaan juga masih dirasakan di berbagai daerah.

Keadaan ini mengingatkan kita bahwa bencana bukanlah persoalan yang jauh. Hari ini kita mungkin berada di tempat yang aman, tetapi saudara-saudara kita di tempat lain sedang berhadapan dengan kehilangan tempat tinggal, kesulitan memperoleh air bersih, kerusakan lingkungan, atau ketakutan akibat guncangan bumi.

Ketika musibah datang, biasanya solidaritas tumbuh dengan cepat. Bantuan dikumpulkan, relawan bergerak, dapur umum didirikan, tenaga kesehatan diterjunkan, dan masyarakat saling menguatkan. Di tengah kesulitan, kita sering menyaksikan sisi terbaik dari kemanusiaan.

Namun, bersamaan dengan itu, ruang digital juga menghadirkan persoalan lain. Ketika sebuah bencana terjadi, media sosial dengan cepat dipenuhi berbagai komentar. Tidak sedikit orang yang tergesa-gesa menghubungkan penderitaan suatu daerah dengan dosa dan kemaksiatan masyarakatnya. Musibah kemudian dijadikan alasan untuk menghakimi korban.

Pertanyaannya, pantaskah kita dengan mudah memastikan bahwa penderitaan orang lain adalah bentuk kemurkaan Allah? Apakah manusia memiliki pengetahuan untuk memastikan maksud Allah di balik setiap peristiwa?

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Fikih Kebencanaan Muhammadiyah memberikan cara pandang yang lebih utuh dalam memahami persoalan tersebut. Bencana tidak cukup dibaca hanya melalui satu sudut pandang. Ada dimensi keimanan, ada hukum alam atau sunnatullah, ada perilaku manusia, dan ada tanggung jawab sosial yang harus dilakukan setelah sebuah bencana terjadi.

Dalam keyakinan Islam, Allah adalah Zat Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Allah berfirman dalam QS Al-An'am ayat 54:

وَإِذَا جَاۤءَكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاٰيٰتِنَا فَقُلْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلٰى نَفْسِهِ الرَّحْمَةَۙ اَنَّهٗ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوْۤءًاۢ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْۢ بَعْدِهٖ وَاَصْلَحَ فَاَنَّهٗ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌArtinya:

"Dan apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami datang kepadamu, maka katakanlah, "Salamun 'alaikum (selamat sejahtera untuk kamu)." Tuhanmu telah menetapkan sifat kasih sayang pada diri-Nya (yaitu) barang-siapa berbuat kejahatan di tim redaksi kamu karena kebodohan, kemudian dia bertobat setelah itu dan memperbaiki diri, maka Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang. (QS Al-An'am: 54).

Ayat tersebut mengingatkan bahwa cara kita membaca ketentuan Allah tidak boleh dilepaskan dari sifat kasih sayang-Nya.

Musibah yang menimpa manusia juga dapat menjadi ujian kehidupan. Allah SWT. berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۝١٥٥الَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ ۝١٥٦

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata "inna lillahi wa inna ilaihi raji'un" (Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali)." (QS Al-Baqarah: 155-156).

Dengan demikian, ketika bencana menimpa suatu masyarakat, sikap pertama kita seharusnya bukan mencari kesalahan korban. Sikap seorang mukmin adalah menghadirkan empati, mendoakan mereka, serta memikirkan apa yang dapat dilakukan untuk mengurangi penderitaannya.

Musibah tidak boleh menjadi panggung untuk merasa lebih suci daripada orang yang sedang tertimpa kesulitan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Di sisi lain, keimanan juga tidak membuat kita menutup mata terhadap sebab-sebab yang dapat dipelajari melalui ilmu pengetahuan.

Gempa bumi memiliki mekanisme geologis. Banjir dapat berkaitan dengan curah hujan, kondisi daerah aliran sungai, tata ruang, dan daya dukung lingkungan. Tanah longsor berkaitan dengan kondisi tanah, lereng, hujan, serta perubahan tutupan lahan. Kebakaran hutan dan lahan juga dapat diperparah oleh kekeringan dan tindakan manusia.

Karena itu, menerima sunnatullah tidak berarti menyerah tanpa ikhtiar.

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

Artinya: "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar-Rum: 41).

Ayat ini tidak berarti bahwa setiap bencana tertentu dapat kita pastikan sebagai hukuman atas dosa kelompok tertentu. Namun, ayat ini menegaskan bahwa tindakan manusia dapat menimbulkan kerusakan dan karena itu manusia memiliki tanggung jawab untuk memperbaiki perilakunya.

Maka muhasabah setelah bencana bukan hanya bertanya, "Dosa siapa yang menyebabkan bencana ini?" Muhasabah yang lebih penting adalah bertanya kepada diri kita, Apakah alam telah kita jaga? Apakah pembangunan telah memperhitungkan risiko dan keselamatan? Apakah pengetahuan tentang mitigasi telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat?"

Inilah bentuk ikhtiar yang juga merupakan bagian dari tanggung jawab keagamaan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Ada pelajaran lain yang tidak kalah penting. Bencana bukan hanya menguji mereka yang menjadi korban. Bencana juga menguji kita yang sedang berada dalam keadaan aman.

Ketika saudara kita kehilangan rumah, apakah hati kita tergerak?

Ketika mereka membutuhkan makanan, air bersih, pelayanan kesehatan, tempat perlindungan, dan pendampingan, apakah kita hadir?

Ketika mereka berbeda agama, suku, bahasa, bahkan pandangan dengan kita, apakah pertolongan kita tetap diberikan?

Di sinilah solidaritas menemukan maknanya.

Pertolongan kemanusiaan harus diberikan kepada manusia karena ia membutuhkan pertolongan. Bukan karena ia berasal dari kelompok yang sama dengan kita.

Karena itu, setidaknya ada tiga sikap yang perlu menjadi pegangan ketika menghadapi bencana.

Pertama, menolong secara inklusif. Keselamatan manusia harus menjadi perhatian utama. Bantuan tidak boleh dibatasi oleh identitas agama, suku, ras, maupun golongan. Penderitaan manusia tidak mengenal sekat-sekat tersebut.

Kedua, menolong secara tepat dan bermartabat. Bantuan tidak cukup diberikan sekadar untuk menunjukkan bahwa kita pernah datang ke lokasi bencana. Apa yang diberikan harus berdasarkan kebutuhan masyarakat terdampak. Dokumentasi tidak boleh lebih penting daripada penderitaan korban. Kemanusiaan bukan panggung untuk mencari perhatian.

Ketiga, memikirkan pemulihan secara berkelanjutan. Setelah perhatian publik berkurang, para penyintas masih harus melanjutkan kehidupan. Ada rumah yang harus dibangun kembali, anak-anak yang harus kembali bersekolah, mata pencaharian yang harus dipulihkan, serta trauma yang membutuhkan pendampingan.

Karena itu, pertolongan tidak berhenti pada masa tanggap darurat. Semangat kemanusiaan harus terus hadir hingga masyarakat mampu berdiri kembali.

Perhatian khusus juga harus diberikan kepada kelompok yang memiliki kerentanan lebih besar, seperti anak-anak, lansia, perempuan, penyandang disabilitas, orang sakit, serta mereka yang kehilangan anggota keluarga dan sumber penghidupan.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,Bencana pada akhirnya menghadapkan kita kepada dua kesadaran sekaligus.

Pertama, kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sebesar apa pun ilmu dan teknologi yang kita kuasai, manusia tetap tidak mampu mengendalikan seluruh peristiwa alam.

Namun yang kedua, manusia juga diberi akal, ilmu, dan tanggung jawab untuk mengurangi risiko. Kita dapat membangun dengan lebih aman, menjaga lingkungan, mengenali ancaman, menyiapkan jalur evakuasi, mendengarkan peringatan dini, mendidik masyarakat, serta saling menolong ketika keadaan darurat terjadi.

Tawakal tidak bertentangan dengan kesiapsiagaan.

Iman tidak bertentangan dengan ilmu pengetahuan.

Bahkan, salah satu wujud keimanan adalah menggunakan seluruh kemampuan yang Allah berikan untuk menjaga kehidupan.

Maka ketika mendengar saudara kita tertimpa bencana, janganlah kita terlebih dahulu bertanya tentang kesalahan mereka. Tanyakanlah kepada diri sendiri:

Apa yang dapat kita lakukan untuk membantu?

Boleh jadi justru melalui pertanyaan itulah Allah sedang menguji keimanan dan kemanusiaan kita.

Semoga Allah SWT melindungi bangsa dan negeri kita dari berbagai marabahaya, memberikan kekuatan kepada mereka yang sedang menghadapi musibah, menguatkan para relawan dan petugas kemanusiaan, serta menjadikan kita sebagai manusia yang ringan tangan dalam menolong sesama.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah SWT,

Bencana mengajarkan bahwa kehidupan manusia saling terhubung. Kesulitan yang dialami seseorang atau suatu masyarakat semestinya menjadi panggilan bagi yang lain untuk menghadirkan pertolongan.

Sebagaimana firman Allah dalam QS Al-Mā'idah ayat 2:

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ

"Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan, dan janganlah kamu tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan."

Marilah kita membiasakan diri melakukan mubadarah, yaitu berinisiatif dan proaktif dalam setiap kebaikan. Jangan menunggu musibah datang ke rumah kita sendiri untuk memahami penderitaan orang lain.

Kita juga perlu membangun budaya kesiapsiagaan. Menjaga lingkungan, memahami risiko di sekitar tempat tinggal, mengikuti informasi resmi ketika terjadi keadaan darurat, serta membantu masyarakat yang membutuhkan merupakan bagian dari ikhtiar menjaga kehidupan.

Semoga Allah memberikan kepada kita kekuatan untuk terus berbuat baik, membimbing kita agar mampu menjaga bumi yang telah diamanahkan-Nya, serta menjadikan kepedulian kepada sesama sebagai bagian dari ketakwaan kita.

Marilah kita menundukkan hati, memohon ampun, dan berdoa kepada Allah SWT.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِالْإِيْمَانِ، وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا، رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوْفٌ رَحِيْمٌ

اللَّهُمَّ افْتَحْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمِنَا بِالْحَقِّ وَأَنْتَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَرِزْقًا طَيِّبًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي أَظْهَرَ لَنَا ثَمَرَ الرَّوْضِ مِنْ كِمَامِهِ، وَأَسْبَغَ عَلَيْنَا بِفَضْلِهِ مَلَابِسَ إِنْعَامِهِ، وَبَصَّرَنَا مِنْ شَرْعِهِ بِحَلَالِهِ وَحَرَامِهِ.

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ ذُوْ الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُؤَيَّدُ بِمُعْجِزَاتِهِ الْعِظَامِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْغُرِّ الْكِرَامِ.

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا عِبَادَ الْكَرِيْمِ، فَإِنِّي أُوْصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ الْحَكِيْمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Sudah seyogianya kita panjatkan puji syukur kepada Allah SWT, atas segala nikmat dan karunia-Nya, sehingga pada hari yang penuh berkah ini kita masih diberi kesempatan untuk berkumpul dan menunaikan ibadah shalat Jumat. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.

Selanjutnya, di tengah kehidupan yang penuh dengan berbagai ujian dan godaan, takwa menjadi bekal yang sangat kita butuhkan. Dengan takwa, kita memiliki kekuatan untuk senantiasa berada di jalan yang Allah swt ridhai, dan tidak mudah terjerumus dalam berbagai perbuatan yang dilarang oleh-Nya. Karena itu, pada momen yang mulia ini, mari kita perkuat ketakwaan kita, dengan senantiasa menunaikan segala perintah dan larangan-Nya.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Dalam kehidupan ini, kesempatan untuk melakukan kebaikan senantiasa datang silih berganti. Ada kebaikan yang bisa kita lakukan setiap hari, dan ada pula kebaikan yang mungkin hanya datang sesekali dalam hidup kita. Namun tidak jarang kita justru menundanya dengan berbagai alasan, seolah waktu yang kita miliki masih panjang dan kesempatan untuk melakukannya akan selalu terbuka.

Karena itu, Allah SWT memuji orang-orang yang tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melakukan kebaikan. Mereka adalah orang-orang yang ketika mendapatkan peluang untuk melakukan amal baik, tidak berlambat-lambat atau menunggu waktu yang lain. Allah SWT berfirman:

أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

Artinya, "Mereka itu bersegera dalam (melakukan) kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61).

Menurut Imam Fakhruddin Ar-Razi, ayat ini memberikan gambaran kepada kita semua tentang orang-orang yang memiliki keinginan kuat terhadap ketaatan, sehingga ketika kesempatan melakukannya datang, mereka segera menyambutnya dan tidak membiarkannya berlalu begitu saja. Mereka bersegera melakukan agar kebaikan tersebut tidak kehilangan waktunya dana agar kesempatan untuk mendapatkannya tidak terlewat. Ia mengatakan dalam kitab Tafsir Mafatihul Ghaib, jilid XI, halaman 193 sebagai berikut:

يَرْغَبُوْنَ فِي الطَّاعَاتِ أَشَدَّ الرَّغْبَةِ، فَيُبَادِرُوْنَهَا لِئَلَّا تَفُوْتَ عَنْ وَقْتِهَا وَلِكَيْلَا تَفُوْتَهُمْ دُوْنَ الْاِحْتِرَامِ

Artinya, "Mereka sangat menginginkan berbagai ketaatan, sehingga segera melaksanakannya agar tidak terlewat dari waktunya dan agar tidak terlewatkan oleh mereka tanpa penghargaan."

Ma'asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Sikap bersegera dalam melakukan kebaikan dapat kita lakukan dalam kebiasaan-kebiasaan kecil sehari-hari, mulai dari membantu orang tua yang membutuhkan bantuan tanpa harus diminta, menyisihkan sebagian rezeki ketika melihat orang lain kesusahan, menjenguk orang yang sakit tanpa menunggu diundang, dan meminta maaf ketika melakukan kesalahan tanpa menunggu orang lain memulai.

Selain itu, masih banyak kebaikan yang dapat segera kita lakukan tanpa harus menunggu waktu sempurna, misalnya segera menunaikan shalat ketika masuk waktu, mengembalikan barang yang dipinjam sebelum pemiliknya menagih, segera melunasi utang ketika sudah mampu, membuang sampah yang berserakan meski bukan kita yang menjatuhkannya, menutup aib dan kekurangan orang lain ketika kita mengetahuinya, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Itulah beberapa contoh kebaikan yang dapat segera kita lakukan tanpa harus menunggu waktu dan kesempatan yang lebih besar. Sebab, menunda kebaikan tidak hanya dikhawatirkan menjadikan kesempatan itu berlalu, tetapi juga dapat membuat seseorang menghadapi berbagai keadaan yang dapat menghalanginya untuk berbuat baik.

Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengingatkan kita semua agar tidak menunda-nunda amal kebaikan dan segera melakukannya sebelum datangnya berbagai kondisi yang dapat menjauhkan kita dari kebaikan tersebut. Nabi bersabda:

بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Artinya, "Segeralah melakukan amal kebaikan sebelum datang berbagai fitnah yang seperti potongan malam yang gelap. Seseorang di pagi hari masih dalam keadaan beriman, tetapi sore harinya menjadi kafir, atau pada sore hari masih dalam keadaan beriman, tetapi pagi harinya menjadi kafir. Ia menjual agamanya demi memperoleh kesenangan dunia." (HR Muslim)

Menurut penjelasan Imam Nawawi, hadits ini merupakan dorongan dan motivasi kepada kita semua agar segera melakukan amal baik sebelum ia menjadi sulit dilaksanakan, atau sebelum kita terhalang darinya oleh berbagai fitnah yang datang silih-berganti, yang menumpuk bagaikan gelapnya malam pekat tanpa cahaya rembulan.

Dengan kata lain, hadits ini mengajak kita semua untuk tidak menunda kebaikan selagi waktu masih terbuka, dan belum datangnya cobaan, ujian yang menumpuk dan menyita perhatian kita, hingga tak lagi sempat melakukan amal kebaikan. Dalam kitab Syarh Nawawi 'ala Muslim, jilid I, halaman 231, Imam Nawawi mengatakan:

مَعْنَى الْحَدِيثِ الْحَثُّ عَلَى الْمُبَادَرَةِ إِلَى الْأَعْمَالِ الصَّالِحَة قَبْلَ تَعَذُّرِهَا وَالِاشْتِغَالِ عَنْهَا بِمَا يَحْدُثُ مِنَ الْفِتَنِ الشَّاغِلَةِ الْمُتَكَاثِرَةِ الْمُتَرَاكِمَةِ كَتَرَاكُمِ ظَلَامِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ لَا الْمُقْمِرِ

Artinya, "Makna hadits adalah anjuran untuk segera melakukan amal kebaikan sebelum menjadi sulit dan sibuk darinya oleh berbagai fitnah yang menyibukkan, yang semakin bertumpuk, sebagaimana bertumpuknya kegelapan malam yang pekat, bukan yang bercahaya."

Oleh sebab itu, mari jangan menunggu datangnya keadaan yang membuat kita sulit untuk melakukan amal baik. Selama kesehatan masih kita miliki, waktu masih tersedia, dan kesempatan untuk melakukan kebaikan senantiasa terbuka, marilah kita segera melakukannya. Jangan sampai kebaikan yang hari ini mampu kita lakukan justru kita tunda hingga datang suatu keadaan yang membuat kita tidak lagi mampu melakukannya.

Ma'asyiral muslimin jamaah Jumat yang dirahmati AllahDemikian khutbah Jumat tentang pentingnya tidak menunda-nunda amal kebaikan. Semoga Allah swt senantiasa memberikan kita kesempatan, kekuatan, dan keistiqamahan untuk segera melakukan setiap kebaikan yang mampu kita kerjakan, serta menjauhkan kita dari sikap menunda-nunda. Dan semoga khutbah ini menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمُ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ

أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَّى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِنَّ اللهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Oleh: Ustadz Sunnatullah, pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam, Kokop Bangkalan Jawa Timur

Demikianlah khutbah Jumat Rabiul Awal 1448 H terbaru yang dapat dijadikan referensi. Semoga bermanfaat!