Perubahan hormon selama transisi menopause juga dapat disertai perubahan suasana hati, kecemasan, mudah tersinggung, serta kesulitan berkonsentrasi. Sebagian perempuan merasakan kondisi yang sering disebut brain fog, yakni perasaan sulit fokus atau mengingat sesuatu.

Meski keluhan tersebut dapat muncul selama menopause, tidak semua perubahan emosi atau gangguan konsentrasi disebabkan oleh hormon. Kualitas tidur, stres, kondisi kesehatan dan faktor lain juga dapat berperan. Jika keluhan berlangsung lama atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.

4. Area kewanitaan menjadi lebih kering

Penurunan kadar estrogen dapat memengaruhi jaringan di sekitar vagina dan saluran kemih. Jaringan vagina bisa menjadi lebih tipis, kering dan kurang elastis sehingga menimbulkan rasa gatal, perih atau tidak nyaman.

Sebagian perempuan juga mengalami nyeri saat berhubungan seksual akibat berkurangnya kelembapan alami. Selain itu, perubahan pada saluran kemih dapat memicu keinginan buang air kecil lebih sering, rasa terbakar saat berkemih atau meningkatnya risiko infeksi saluran kemih.

Keluhan tersebut tidak selalu langsung muncul ketika menstruasi berhenti. Pada sebagian perempuan, masalah pada vagina dan saluran kemih justru dapat menetap atau semakin terasa setelah menopause. Tersedia pilihan penanganan, termasuk pelembap vagina dan terapi medis tertentu yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien.

5. Berat badan dan bentuk tubuh dapat berubah

Sebagian perempuan mengalami kenaikan berat badan selama masa transisi menopause. Lemak tubuh juga dapat lebih mudah menumpuk di sekitar perut dibandingkan sebelumnya.

Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penurunan estrogen, tetapi juga proses penuaan, perubahan massa otot, pola makan, aktivitas fisik dan kualitas tidur. Karena itu, kenaikan berat badan selama menopause tidak dapat dikaitkan dengan satu faktor saja.

Menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur dan mempertahankan massa otot dapat membantu mendukung kesehatan selama fase ini. Pemeriksaan kesehatan berkala juga berguna untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah dan faktor risiko penyakit lainnya.

Estrogen berperan dalam menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian tulang. Ketika kadarnya menurun selama menopause, kepadatan tulang dapat berkurang sehingga risiko osteoporosis dan patah tulang meningkat.