NADIKABAR.COM — Kemarau panjang mulai berdampak pada sektor pertanian di Kabupaten Tabanan, Bali. Berdasarkan pendataan Dinas Pertanian Tabanan hingga 6 Agustus 2026, sebanyak 746 hektare lahan sawah mengalami kekurangan pasokan air.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tabanan I Gusti Putu Ekayana mengatakan kondisi tersebut terjadi akibat menurunnya debit air yang mengalir ke sejumlah subak. Kekurangan air juga mulai mengganggu proses penanaman dan pertumbuhan tanaman.

Sementara wilayah yang terkendala krisis air di antaranya Kecamatan Pupuan dengan luas 50 hektare, Selemadeg Timur 35 hektare, Kecamatan Tabanan 37 hektare, Kerambitan 41 hektare, Selemadeg Barat 115 hektare, dan Kecamatan Selemadeg seluas 468 hektare.

"Dampak kekurangan air berbeda-beda di masing-masing wilayah. Sejumlah subak mengalami penurunan debit air sehingga pasokan ke lahan pertanian tidak mencukupi," jelas Ekayana, Rabu (26/8/2026).

Tak hanya itu, kondisi kemarau kali ini juga membuat petani harus menyesuaikan pola tanam, termasuk menunda penanaman maupun mengganti komoditas yang ditanam. Sebagai langkah antisipasi, Dinas Pertanian mendorong petani untuk mengubah pola tanam dari padi menjadi jagung atau tanaman palawija.

Bahkan di beberapa subak, pengairan untuk tanaman jagung dilakukan dengan memanfaatkan pompa untuk memenuhi kebutuhan air tanaman.

"Langkah tersebut menjadi salah satu solusi agar lahan pertanian tetap produktif di tengah keterbatasan pasokan air. Petani tidak harus memaksakan penanaman padi apabila kondisi air tidak mendukung, tetapi dapat menyesuaikan komoditas dengan ketersediaan air di lapangan," bebernya.

Namun, jika lahan benar-benar kering dan tidak memiliki sumber air yang bisa dimanfaatkan, petani disarankan tidak memaksakan penanaman. Lahan dapat dibiarkan bero atau diistirahatkan sementara.

"Langkah itu sekaligus untuk menghindari risiko tanaman gagal tumbuh akibat kekurangan air," jelasnya.

Ekayana mengatakan pemantauan terhadap kondisi lahan pertanian akan terus dilakukan, terutama jika musim kemarau masih berlangsung. Perkembangan kondisi air di masing-masing subak menjadi perhatian untuk menentukan pola tanam yang paling sesuai.