Di Amerika, labu lebih mudah ditemukan dan memiliki ukuran yang cocok untuk diukir. Bagian dalamnya juga relatif mudah dikeluarkan sehingga lebih praktis dijadikan lentera.

Lama-kelamaan, labu menggantikan lobak sebagai bahan utama dan menjadi simbol Halloween yang dikenal hingga sekarang.

4. Tradisi meminta permen sudah ada sebelum istilah trick or treat populer

Kegiatan trick or treat dilakukan dengan cara mendatangi rumah warga untuk meminta makanan atau permen. Jika melihat sejarahnya, kebiasaan meminta makanan pada akhir Oktober dan awal November telah memiliki sejumlah pendahulu di Eropa.

Salah satu tradisi yang sering dikaitkan dengannya adalah souling, yakni kebiasaan meminta makanan, termasuk kue khusus yang dikenal sebagai soul cakes, dengan imbalan mendoakan orang yang telah meninggal. Ada pula tradisi guising di Skotlandia dan Irlandia, ketika anak-anak mengenakan penyamaran dan menerima hadiah setelah melakukan pertunjukan sederhana.

Istilah trick or treat sendiri baru tercatat digunakan dalam konteks Halloween pada awal abad ke-20. Tradisi tersebut semakin populer di Amerika Serikat setelah Perang Dunia II, ketika permen kembali lebih mudah diperoleh dan kegiatan Halloween berkembang menjadi acara keluarga.

5. Permen bukan satu-satunya hadiah saat trick or treat

Saat ini, permen menjadi hadiah yang paling identik dengan trick or treat. Padahal, hadiah yang diberikan kepada anak-anak pada masa lalu lebih beragam.

Menurut penjelasan sejarah yang dihimpun Library of Congress Amerika Serikat, hadiah Halloween dahulu dapat berupa buah, kacang-kacangan, uang logam, hingga mainan. Permen yang dikemas satu per satu kemudian semakin populer karena praktis dibagikan kepada anak-anak.

Perubahan ini turut membentuk kebiasaan Halloween modern. Permen menjadi pilihan yang mudah disiapkan oleh pemilik rumah dan mudah dibawa oleh anak-anak saat berkeliling lingkungan tempat tinggal.

6. Halloween pernah identik dengan aksi jahil

Halloween pada masa lalu tidak selalu berlangsung tertib. Di Amerika Serikat, perayaan ini pernah diwarnai berbagai aksi jahil, mulai dari mengerjai tetangga hingga merusak atau memindahkan barang milik orang lain.

Pada awal abad ke-20, sejumlah komunitas mulai mengadakan parade, pesta, dan kegiatan terorganisasi untuk mengarahkan perayaan ke aktivitas yang lebih aman.

Kota Anoka di Minnesota, misalnya, mulai mengadakan perayaan Halloween resmi pada 1920. Kegiatan tersebut mencakup parade dan api unggun, serta dikaitkan dengan upaya masyarakat setempat untuk mengurangi aksi jahil yang mengganggu warga.