NADIKABAR.COM — Belajar fotografi tidak harus langsung menggunakan kamera profesional dengan harga puluhan juta rupiah. Saat ini, banyak kamera mirrorless yang dirancang dengan bodi ringkas, menu yang lebih mudah dipahami, serta fitur otomatis yang membantu pengguna menghasilkan foto bagus sambil perlahan belajar mengenai aperture, shutter speed dan ISO.
Bagi Anda yang pemula, kamera dengan lensa yang bisa diganti juga menjadi pilihan menarik. Selain dapat digunakan dengan lensa bawaan untuk belajar dasar fotografi, pengguna nantinya bisa mencoba lensa dengan karakter berbeda sesuai kebutuhan, mulai dari lensa untuk potret, pemandangan, jalanan hingga fotografi olahraga.
Memasuki Oktober 2026, ada sejumlah kamera yang masih menarik untuk dijadikan kamera pertama. Pilihannya tidak hanya berasal dari Canon dan Sony, tetapi juga Fujifilm, Nikon, OM System hingga Panasonic.
Canon EOS R50 menjadi salah satu kamera yang cukup ramah untuk pengguna yang baru berpindah dari kamera ponsel ke kamera mirrorless.
Kamera ini membawa sensor APS-C 24,2 megapiksel dan prosesor DIGIC X. Canon juga membekalinya dengan Dual Pixel CMOS AF II yang membantu kamera mengenali dan mengikuti subjek.
Bagi pemula, salah satu keunggulannya adalah fitur Advanced A+ Assist yang membantu pengguna mendapatkan hasil foto tanpa harus langsung memahami semua pengaturan manual.
EOS R50 juga memiliki layar sentuh yang dapat diputar dan mendukung perekaman video 4K 30p yang di-oversampling dari 6K.
Dengan bobot bodi yang relatif ringan, EOS R50 cocok digunakan untuk belajar fotografi sehari-hari, seperti memotret teman, keluarga, makanan, perjalanan maupun street photography. Canon juga memiliki ekosistem lensa RF dan RF-S yang bisa menjadi ruang berkembang ketika kemampuan pengguna sudah meningkat.
Jika ingin belajar fotografi sekaligus menikmati karakter warna yang khas, Fujifilm X-M5 layak masuk daftar.
Kamera ini menggunakan sensor APS-C X-Trans CMOS 4 beresolusi 26,1 megapiksel dan prosesor X-Processor 5. Bobotnya sekitar 355 gram termasuk baterai dan kartu memori sehingga relatif mudah dibawa bepergian.
Salah satu daya tarik Fujifilm adalah Film Simulation. Fitur ini memungkinkan pengguna mendapatkan berbagai karakter warna langsung dari kamera tanpa harus selalu melakukan pengeditan setelah memotret.
X-M5 juga sudah mendukung format RAW 14-bit sehingga pengguna dapat mulai belajar mengolah foto secara lebih serius menggunakan aplikasi seperti Lightroom atau perangkat lunak pengolah RAW lainnya.
Untuk yang juga tertarik membuat video, kamera ini bahkan mampu merekam 6.2K hingga 30p dan 4K hingga 60p.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. X-M5 tidak memiliki electronic viewfinder sehingga pengguna mengandalkan layar belakang ketika membidik. Bagi sebagian pemula ini bukan masalah, tetapi fotografer yang terbiasa menggunakan viewfinder mungkin membutuhkan adaptasi.
Nikon Z50II cocok untuk pemula yang ingin kamera pertama tetapi tidak ingin terlalu cepat merasa perlu melakukan upgrade.
Kamera ini menggunakan sensor DX atau APS-C beresolusi 20,9 megapiksel. Nikon juga membekalinya dengan electronic viewfinder beresolusi sekitar 2,36 juta titik serta layar sentuh vari-angle 3,2 inci.
Keberadaan viewfinder menjadi nilai tambah bagi pemula yang ingin belajar fotografi dengan cara lebih konvensional. Pengguna bisa belajar mengatur komposisi melalui viewfinder sekaligus memahami pengaruh cahaya dan exposure secara langsung.
Z50II juga mampu memotret hingga 11 frame per detik dengan RAW resolusi penuh. Untuk foto olahraga atau hewan yang bergerak cepat, kemampuan tersebut cukup membantu.
Nikon menyediakan sejumlah mode pemotretan, termasuk aperture priority, shutter priority dan manual. Artinya, kamera ini bisa menemani pengguna mulai dari sekadar menekan tombol shutter sampai benar-benar memahami pengaturan fotografi.
Nikon juga menyebut Z50II sebagai kamera yang ramah bagi pemula dan menyediakan berbagai fitur untuk membantu proses kreatif.