Kamera ini menggunakan sensor Micro Four Thirds 20,3 megapiksel dan memiliki sistem 5-axis image stabilization yang mampu memberikan kompensasi hingga 4,5 stop.
Fitur tersebut berguna ketika pengguna memotret dengan tangan dalam kondisi cahaya yang tidak terlalu terang. Kamera dapat membantu mengurangi efek goyangan sehingga foto lebih mudah tetap tajam.
E-M10 Mark IV juga memiliki electronic viewfinder, layar sentuh yang dapat dilipat dan kemampuan memotret hingga 8,7 frame per detik menggunakan autofocus tunggal.
Bagi pemula, kamera ini menarik karena memiliki berbagai mode pemotretan dan 16 Art Filters yang memungkinkan pengguna bereksperimen dengan karakter gambar tanpa harus langsung memahami pengeditan foto.
OM System juga memposisikannya sebagai kamera yang ringkas dan serbaguna untuk fotografi sehari-hari.
Panasonic Lumix G100D cocok untuk pemula yang menginginkan kamera kecil untuk fotografi sekaligus video.
Kamera ini menggunakan sensor Micro Four Thirds 20,3 megapiksel dan sistem lensa Micro Four Thirds. Ukuran sensor tersebut memang lebih kecil dibandingkan APS-C, tetapi memiliki keuntungan berupa pilihan lensa yang cukup luas dan ukuran perangkat yang relatif ringkas.
G100D juga dapat merekam foto dalam format RAW sehingga pengguna bisa mulai belajar proses editing dan memahami bagaimana file foto mentah berbeda dengan JPEG.
Bagi pengguna yang suka membuat konten perjalanan, kamera ini juga menarik karena desainnya ringkas dan memiliki layar yang dapat digunakan untuk berbagai sudut pengambilan gambar.
Kamera ini bukan pilihan paling baru dalam daftar, tetapi justru bisa menjadi alternatif menarik ketika ditemukan dengan harga yang lebih rendah, terutama bagi pemula yang ingin mengalokasikan sebagian anggaran untuk membeli lensa tambahan.
Jadi, kamera mana yang cocok untuk pemula?
Tidak ada satu kamera yang paling cocok untuk semua orang. Pilihannya sebaiknya disesuaikan dengan jenis fotografi yang ingin dipelajari.
Untuk pemula yang ingin kamera serba bisa dan mudah digunakan, Canon EOS R50 menjadi pilihan yang aman. Sementara itu, Fujifilm X-M5 menarik bagi pengguna yang mengutamakan warna, desain ringkas dan eksplorasi fotografi.
Jika ingin belajar menggunakan viewfinder dan fotografi dengan pendekatan yang lebih serius, Nikon Z50II layak dipertimbangkan. Untuk pengguna yang juga ingin membuat vlog atau konten video, Sony ZV-E10 II lebih menarik.
Sementara itu, Canon EOS R100 cocok untuk pengguna yang ingin memulai dengan biaya lebih rendah. Nikon Z30 menarik untuk pengguna yang mengutamakan bodi ringkas, sedangkan OM-D E-M10 Mark IV punya keunggulan berupa stabilisasi gambar di dalam bodi.
Satu hal yang tidak kalah penting adalah lensa. Jangan sampai seluruh anggaran habis untuk membeli bodi kamera, lalu tidak memiliki dana untuk membeli lensa atau aksesori pendukung.
Untuk pemula, lensa kit seperti 15-45mm, 16-50mm atau 18-45mm sebenarnya sudah cukup untuk mempelajari dasar fotografi. Setelah mulai memahami komposisi, aperture, focal length dan karakter lensa, barulah pertimbangkan membeli lensa tambahan.
Pada akhirnya, kamera terbaik untuk belajar fotografi bukan selalu kamera dengan spesifikasi tertinggi. Kamera yang nyaman dibawa, mudah digunakan dan membuat penggunanya rajin memotret justru jauh lebih berguna.
Sebab, kemampuan fotografi tidak tumbuh hanya karena memiliki kamera mahal. Semakin sering memotret, mencoba pengaturan berbeda dan memahami mengapa sebuah foto terlihat bagus atau kurang menarik, semakin cepat pula kemampuan berkembang.