Habitat & Ciri Fisik: Banyak dijumpai di Papua dan Maluku. Memiliki pola garis abu-abu keputihan dengan panjang rata-rata 45 cm.

Bahaya Bisa: Memiliki racun neurotoksin sangat kuat dan kemampuan kamuflase tinggi di tim redaksi dedaunan kering atau semak.

Mencegah ular masuk jauh lebih aman daripada menghadapinya secara langsung. Ular menyukai tempat lembap, aman untuk bersembunyi, dan memiliki sumber mangsa berlimpah.

Ular mampu menyelinap lewat celah kecil. Periksa retakan dinding, celah pintu bawah, ventilasi, pipa drainase, plafon, hingga genteng. Tutup menggunakan semen, kawat kasa logam, atau penutup rapat lainnya.

Ular mengandalkan organ Jacobson untuk mencium aroma tajam. Manfaatkan:

Gunakan wewangian tajam seperti minyak kayu manis, minyak cengkih, atau parfum beraroma pekat pada kusen pintu, ventilasi, dan celah saluran air.

Jangan meninggalkan sisa makanan hewan (kucing/anjing) berserakan di luar rumah karena dapat mengundang tikus. Simpan stok pakan di wadah kedap udara.

Kendalikan populasi tikus dengan rutin membersihkan rumah dan memasang perangkap. Jika memelihara burung, gantung kandang di tempat tinggi yang sulit dijangkau ular.

Hindari menumpuk kayu bakar, bata, kardus bekas, atau kain kotor di gudang dan pekarangan secara sembarangan.

Potong rumput tinggi, pangkas semak rimbun, dan bersihkan timbunan daun kering agar ular tidak memiliki jalur sembunyi menuju rumah.

Tanam serai wangi (citronella), bawang putih, atau mint di pekarangan untuk menghasilkan aroma alami yang tidak disukai ular.

Jika terjadi gigitan ular, tindakan medis awal yang tepat dan cepat sangat krusial untuk menyelamatkan nyawa.

Metode Utama: Imobilisasi Total (Standar WHO)

Langkah: Pasang bilah kayu/bidai (spalk) pada lengan atau kaki yang tergigit, lalu balut dengan perban elastis agar bagian tubuh tersebut benar-benar tidak bergerak sama sekali (mirip penanganan patah tulang).

Tujuan: Meminimalkan kontraksi otot guna memperlambat penyebaran bisa melalui pembuluh getah bening ke seluruh tubuh.

Peringatan: Hindari mengikat torniket terlalu kencang karena dapat menghentikan aliran darah arteri dan memicu kematian jaringan (nekrosis).

Dilarang menyayat, mengiris, atau membakar area luka: Tindakan ini tidak mengeluarkan bisa dan justru memperparah risiko infeksi sekunder.

Dilarang menyedot darah luka dengan mulut: Luka kecil atau sariawan pada rongga mulut penolong berisiko langsung terpapar racun.

Segera bawa korban ke rumah sakit terdekat yang menyediakan Serum Anti-Bisa Ular (SABU). Ingat ciri fisik ular yang menggigit (warna, corak, bentuk kepala) tanpa perlu memburunya, agar tenaga medis dapat memberikan anti-bisa yang sesuai.