NADIKABAR.COM — Setidaknya 81 pesawat militer Amerika Serikat (AS) telah hilang atau mengalami kerusakan selama perang melawan Iran dilancarkan sejak akhir Februari lalu.
Informasi tersebut, seperti dilansir Al Arabiya, Rabu (7/10/2026), disampaikan dalam laporan terbaru Congressional Research Service (CRS) yang dirilis pada 5 Oktober waktu setempat.
Laporan tersebut menyebutkan bahwa jumlah itu mencakup pesawat militer jenis fixed-wing, helikopter militer, dan sistem tanpa awak atau drone.
Diperingatkan oleh CRS dalam laporannya bahwa angka tersebut dapat berubah karena faktor klasifikasi, operasi tempur yang masih berlangsung, dan atrisi atau penyusutan jumlah akibat penggunaan operasional. Sedangkan beberapa pesawat yang rusak mungkin sudah kembali beroperasi.
Kerugian terbesar militer AS, menurut laporan tersebut, melibatkan drone MQ-9 Reaper, dengan setidaknya 45 unit dilaporkan hilang selama operasi militer melawan Iran.
Laporan itu juga mencatat 12 unit jet tempur F-15E Strike Eagle, yang mencakup tiga unit jet tempur yang rusak akibat insiden friendly fire di wilayah udara Kuwait pada Maret dan satu jet tempur yang hancur di wilayah udara Iran pada April lalu.
Delapan jet tempur F-15 lainnya, sebut laporan CRS tersebut, mengalami kerusakan ringan akibat serangan Iran terhadap Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania pada September lalu. Namun ditambahkan juga bahwa jet-jet tempur itu telah kembali beroperasi.
Kerugian atau kerusakan lainnya mencakup satu jet tempur siluman F-35A Lightning II, dua unit pesawat A-10 Thunderbolt II, tujuh pesawat pengisi bahan bakar di udara KC-135, dan satu pesawat jenis peringatan dan kendali udara E-3 Sentry.
Laporan tersebut juga mencantumkan dua pesawat operasi khusus MC-130J, satu helikopter jenis combat search-and-rescue HH-60W, sebuah drone MQ-4C Triton, dan tiga drone MQ-1.
Kerugian helikopter yang dialami militer AS mencakup satu AH-64 Apache yang dilaporkan ditembak jatuh di atas Selat Hormuz, empat AH-6 Little Bird yang hancur saat operasi penyelamatan, dan satu MH-60 Sea Hawk yang jatuh di Laut Arab.
Laporan CRS menyebutkan bahwa kehilangan dan kerusakan itu dapat menimbulkan sejumlah masalah terkait fungsi pengawasan Kongres AS, termasuk apakah Pentagon memiliki informasi dan dana yang memadai untuk mengganti pesawat yang rusak, serta apakah hilangnya platform yang langka dan mulai menua -- seperti E-3 -- dapat menciptakan celah kemampuan di sektor lainnya.
Laporan itu juga menyoroti potensi tekanan terhadap basis industri pertahanan AS, sembari memperingatkan bahwa kapasitas produksi, rantai pasokan, dan tuntutan yang bersaing, termasuk penjualan militer ke luar negeri, dapat mempengaruhi kecepatan Pentagon dalam memulihkan jumlah pesawat yang hilang.