"Ada gejala halusinasi politik pada segelintir kekuatan senyap yang melancarkan kampanye kekacauan sosial menumpangi gerakan massa. Mereka ingin menciptakan krisis kepercayaan dan delegitimasi terhadap kebijakan progresif dan populis Presiden Prabowo," tegas Haris, yang pernah menjadi Komandan Relawan TKN Prabowo-Gibran.

Haris menduga momentum satu tahun wafatnya Affan Kurniawan sengaja ditumpangi untuk tujuan memprovokasi kemarahan driver ojol dan rakyat luas untuk melakukan pembangkangan sosial.

"Namun, kami yakin kawan-kawan komunitas driver ojol tidak akan terprovokasi. Karena baik DPR RI maupun pemerintahan Prabowo telah mengakomodir tuntutan kawan-kawan driver ojol. Bahkan, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad tercatat beberapa kali menerima dan mendengar langsung aspirasi dari delegasi komunitas driver ojol," lanjut Haris.

Dalam kesempatan ini, Haris mengingatkan terkait teknik 'information laundering', yaitu pencucian dan daur ulang disinformasi yang dipakai untuk menebar hasutan dan provokasi kepada masyarakat. Haris menduga kekuatan senyap tersebut sedang bekerja menggunakan teknik tersebut untuk memanaskan situasi menjelang aksi massa 27 Agustus 2026.

Menurut Haris, teknik 'information laundering' adalah proses ketika disinformasi atau berita palsu yang diorkestrasi secara masif di akun-akun media sosial dicuci sehingga tampak kredibel, dengan cara disebarkan melalui saluran media arus utama atau media mainstream.

"Disinformasi dan berita palsu adalah konten itu sendiri, sedangkan pencucian informasi adalah teknik yang digunakan untuk melegitimasi konten disinformasi dan berita palsu tersebut sehingga tampak sebagai sebuah kebenaran," jelas Haris yang merupakan aktivis 98 UGM Yogyakarta.