Menurut Haris, tanpa teknik information laundering, disinformasi dan hoaks bergerak terbatas pada ruang-ruang marginal di akun-akun media sosial.
"Jika kita cermati, laundering informasi atau pencucian informasi telah digunakan sebagai teknik dalam peperangan psikologis, tujuannya adalah meruntuhkan kepercayaan publik dan kepercayaan pasar kepada pemerintah," ujar Haris.
"Gerakan seperti ini sebetulnya bagian dari rangkaian kampanye destabilisasi yang sedang dilancarkan dalam beberapa bulan terakhir", sambung Haris.
Namun, menurut Haris, kampanye destabilisasi yang dilancarkan tersebut ibarat pungguk merindukan bulan. Karena, obsesi sejumlah pakar ekonomi yang memproyeksikan rupiah akan runtuh hingga Rp 25.000 terhadap USD, justru terbalik rupiah dan IHSG perlahan mengalami penguatan.
Selain itu, menurut Haris, pidato Prabowo pada tanggal 14 Agustus 2026 di hadapan MPR/DPR/DPD telah memaparkan data pencapaian program selama dua tahun memerintah. Namun, Haris tidak memungkiri, fakta bahwa masih banyak masalah rakyat yang belum teratasi. "Kita butuh kerjasama dan kebersamaan untuk mengatasi problem rakyat. Bagi kami, gerakan sosial masyarakat adalah mitra kritis pemerintah dalam melindungi kebijakannya dari penyalahgunaan," tutup Haris.
Lihat juga Video: Wilsen Willim, Bereksperimen Melalui Kain Tenun Daur Ulang