Kemudian, analisis teknologi High-Frequency (HF) Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung mencatat probabilitas tsunami pada saat tersebut berada di tingkat rendah (di bawah 40 persen), dengan tinggi gelombang laut yang terjaga di kisaran satu meter. Meski begitu, gangguan geomagnetik muncul dalam 12 jam terakhir.

"BMKG merekam adanya fenomena sekunder berupa gangguan geomagnetik dan petir vulkanik. Sensor di Lampung Selatan dan Serang mencatat adanya gangguan geomagnetik yang selaras dengan kenaikan sambaran petir vulkanik pada rentang waktu 12 jam terakhir. Namun, intensitas gangguan tersebut tidak sebesar letusan awal," terang Ardhasena.

Sampai saat ini, BMKG terus mengoptimalkan kesiapsiagaan nasional melalui skema pemantauan terpadu berbasis multi-instrument secara nonstop selama 24 jam penuh. BMKG mengimbau seluruh lapisan masyarakat, khususnya yang beraktivitas dan bermukim di sepanjang pesisir Selat Sunda, untuk meningkatkan kewaspadaan, namun tetap tenang.

Adapun untuk mendapatkan pembaruan kondisi secara real-time, masyarakat dapat merujuk pada saluran komunikasi resmi yang dirilis secara berkala oleh BMKG, Badan Geologi/PVMBG, serta instansi pemerintah berwenang setempat.