Suwarto menjelaskan, peta keberadaan Sesar Kendeng di Surabaya sebenarnya sudah sejak lama dipetakan oleh Badan Geologi bersama para ahli geologi.
"Itu dari peta geologi sudah ada, dibuat oleh para ahli geologi awalnya. Sudah lama sih itu, adanya di peta geologi dari Badan Geologi," jelasnya.
Namun, pengenalan dan pelepasan data peta sumber bahaya gempa secara resmi kepada publik dan pemda baru dilakukan sejak 2017 untuk mendukung kebijakan mitigasi serta penataan tata ruang daerah. Data tersebut rutin diperbarui berkala setiap lima tahun sekali.
"Sebenarnya mungkin sebelumnya sudah ada, cuma secara resmi dirilis keperluan untuk tata ruang itu 2017 itu. Dan terus diperbarui (terakhir) 2024, lima tahun sekali," ucapnya.
Berdasarkan Buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia yang diterbitkan oleh Pusat Studi Gempa Nasional (PusGen) tahun 2024, jalur patahan di Jawa Timur terdapat sesar yang melewati wilayah Surabaya dengan nama Sesar Java Back-arc thrust Surabaya, potensi magnitudo maksimumnya M 6.7.