Namun, keberadaan dua gumuk tersebut belum dapat dipastikan sebagai pulau atau gunung api baru. Badan Geologi menyebut interpretasi tersebut masih bersifat sementara dan perlu dikonfirmasi melalui pengecekan langsung di lapangan.
Kemunculan material yang menyembul dari permukaan laut tidak berarti telah terbentuk gunung api baru. Material vulkanik yang keluar saat erupsi dapat menumpuk di sekitar tubuh gunung dan membentuk perubahan pada morfologi kawasan.
Daryono, anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) dan mantan pejabat BMKG, menjelaskan bahwa daratan yang terlihat tersebut merupakan akumulasi material vulkanik seperti abu, batuan dan lava hasil erupsi Anak Krakatau yang mengendap di laut.
Proses penumpukan tersebut berlangsung secara bertahap. Kondisi dasar laut di sekitar kawasan kaldera purba Krakatau yang relatif dangkal turut memungkinkan material hasil erupsi lebih mudah menumpuk hingga akhirnya terlihat di atas permukaan laut.
Anak Krakatau mengalami erupsi berulang
Kemunculan perubahan morfologi tersebut berkaitan dengan aktivitas vulkanik Anak Krakatau yang meningkat sepanjang 2026. Badan Geologi mencatat Anak Krakatau kembali mengalami erupsi sejak 2 Juli 2026 setelah sebelumnya mengalami jeda aktivitas yang cukup panjang.
Pada 5 September 2026, Anak Krakatau mengalami erupsi menerus yang disertai suara gemuruh. Fenomena tersebut juga menghasilkan aliran lava dan disebut menyerupai lava fountain atau air mancur lava.
Pada 8 September 2026, Anak Krakatau kembali mengalami dua kali erupsi, masing-masing pada pukul 05.08 WIB dan 05.34 WIB. Aktivitas tersebut terekam melalui seismograf meskipun kolom abu tidak teramati secara visual dari pos pengamatan.