BMKG minta perubahan morfologi diverifikasi

BMKG sebelumnya menegaskan bahwa untuk menyatakan secara pasti telah terbentuk daratan baru akibat aktivitas Anak Krakatau, diperlukan pengamatan dan pemantauan terhadap morfologi gunung api.

Artinya, kemunculan bentuk daratan dalam rekaman visual perlu dibandingkan dengan kondisi sebelum dan sesudah erupsi serta diverifikasi melalui pengamatan lapangan.

Badan Geologi juga menyampaikan bahwa interpretasi mengenai dua gumuk yang terlihat dari citra satelit masih perlu dikonfirmasi. Verifikasi dilakukan dengan mencocokkan citra satelit sebelum dan setelah erupsi serta melakukan pemeriksaan lapangan.

PVMBG sebelumnya menyatakan pertumbuhan fisik Anak Krakatau memang berlangsung relatif cepat, tetapi kondisi tersebut masih merupakan bagian dari dinamika pembentukan gunung api muda. Pada 17 September 2026, PVMBG menyebut aktivitas Anak Krakatau telah kembali ke pola erupsi strombolian dengan durasi singkat.

Meski demikian, kawasan sekitar Anak Krakatau tetap perlu diwaspadai. Badan Geologi mengimbau masyarakat tidak mendekati radius 2 kilometer dari pusat erupsi. Khusus lokasi dua gumuk yang terlihat di sekitar Anak Krakatau, masyarakat diminta tidak mendekat dalam radius 1 kilometer demi keselamatan.

Dengan demikian, kemunculan daratan di sekitar Anak Krakatau memang berkaitan dengan penumpukan material hasil aktivitas vulkanik.

Namun, penyebutan wilayah tersebut sebagai pulau atau gunung api baru masih memerlukan verifikasi lapangan. Perubahan morfologi yang terdeteksi saat ini merupakan bagian dari proses pertumbuhan dan aktivitas vulkanik Anak Krakatau.