Sebaliknya, Holzhacker menilai Flavio Bolsonaro terlalu percaya diri akan memenangi putaran kedua. Akibatnya, ia gagal menyampaikan pesan kampanyenya kepada para pendukung secara sama efektifnya.
Sosiolog sekaligus pakar politik Mayra Goulart, profesor di Universitas Federal Rio de Janeiro, juga mengingatkan agar kebangkitan Lula tidak semata-mata dikaitkan dengan media sosial.
"Ini merupakan perpaduan antara media sosial dan mobilisasi langsung di lapangan," ujarnya.
"Interaksi di dunia nyata memungkinkan mobilisasi yang dapat mengurangi angka golput dan meyakinkan pemilih yang belum menentukan pilihan."
Menurut Goulart, pendukung Lula berhasil mengubah antusiasme di dunia maya menjadi keterlibatan politik secara langsung.
"Mereka yang berkomitmen untuk memenangkan Lula berupaya mengumpulkan orang-orang dan meyakinkan mereka untuk datang ke tempat pemungutan suara," kata Goulart.
Ia menilai upaya tersebut tidak hanya membantu meningkatkan partisipasi pemilih, tetapi juga dapat menjadi modal berharga bagi pemerintahan Lula berikutnya.
"Saya percaya, upaya kolektif ini menjadi pengalaman belajar yang penting dan akan bermanfaat bagi pemerintahan yang masih menghadapi banyak tantangan ke depan. Upaya ini tidak hanya membantu mengurangi angka golput, tetapi juga berhasil mengubah pilihan sejumlah besar pemilih yang sebelumnya belum menentukan sikap."
Lula sendiri mengisyaratkan bahwa mobilisasi yang mendorong kebangkitannya dalam pemilu dapat mempengaruhi cara ia menjalankan pemerintahan pada tahun-tahun mendatang.
Dalam pidato kemenangannya, Lula mengatakan bahwa pemilu tersebut memberinya banyak pelajaran. Ia pun berjanji akan mengubah cara Brasil dikelola.
"Kami akan memberi masyarakat ruang yang lebih besar untuk ikut menentukan keputusan, dan komunikasi digital akan memainkan peran yang jauh lebih besar dalam pemerintahan saya."