NADIKABAR.COM — Asian Development Bank (ADB) pada Rabu merevisi perkiraan pertumbuhan Kamboja menjadi 3,9 persen pada 2026, turun dari proyeksi 4,1 persen pada Juli, yang mencerminkan aktivitas pariwisata dan jasa terkait yang lebih lemah dari perkiraan.

Pertumbuhan diperkirakan akan menguat menjadi 4,7 persen pada 2027, didukung oleh sektor manufaktur yang tangguh, diversifikasi ekspor, dan investasi asing langsung (FDI) yang terus berlanjut, menurut siaran pers ADB.

"Ekonomi Kamboja terus menunjukkan ketahanan," ujar Yasmin Siddiqi, Country Director ADB untuk Kamboja.

"Kuatnya ekspor manufaktur dan derasnya arus masuk investasi membantu mengimbangi tantangan di sektor pariwisata," tambahnya.

Siddiqi mengatakan upaya berkelanjutan untuk mendiversifikasi perekonomian, meningkatkan daya saing, mendukung rumah tangga rentan, dan memperkuat ketahanan akan menjadi penting untuk mempertahankan pertumbuhan inklusif.

Menurut siaran pers tersebut, perkiraan inflasi telah direvisi naik, mencerminkan kenaikan harga minyak global dan biaya impor.

Siaran pers itu menyebutkan bahwa inflasi naik dari 2,6 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Februari menjadi 7,2 persen pada Mei, sebelum melandai ke angka 5,5 persen pada Juli.

ADB memproyeksikan inflasi sebesar 4,7 persen pada 2026 dan 2,8 persen pada 2027, seiring langkah-langkah keringanan pajak bahan bakar dan nilai tukar riel yang relatif stabil membantu meredam tekanan harga, papar siaran pers itu.

Menurut siaran pers tersebut, sektor industri tetap menjadi penggerak utama pertumbuhan, sementara sektor konstruksi dan real estat tetap lesu.

Pertumbuhan sektor jasa diperkirakan akan lebih lemah daripada perkiraan sebelumnya akibat penurunan aktivitas pariwisata, menurut siaran pers tersebut.

Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara turun 47,9 persen (yoy) menjadi 1,8 juta pada paruh pertama 2026, atau hanya sedikit di atas separuh dari tingkat sebelum pandemi, imbuh siaran pers itu.