β€œPelajaran penting dari kedua kisah ini (Tiongkok dan Uni Eropa) adalah integrasi ekonomi itu mutlak diperlukan,” kata Bambang.

Berkaca pada pengalaman Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, hingga Uni Eropa, ia juga memandang pemerintah perlu menyediakan regulasi yang konsisten serta membangun infrastruktur dasar yang dibutuhkan industri.

Selain itu, pemerintah perlu menetapkan target kerja sama berbasis capaian (contracted milestone) dengan sektor swasta, sebagaimana diterapkan di Jepang dan Korea Selatan.

Dalam konteks Indonesia, ia menilai Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dapat berperan sebagai penghubung antara pembeli (buyers) dan pemasok (suppliers) yang kredibel. Peran tersebut, menurutnya, diperlukan untuk membangun rantai pasok dan rantai nilai global, sekaligus mengintegrasikan Indonesia ke dalam jaringan produksi internasional.

Bambang pun mengusulkan sejumlah langkah konkret yang dapat segera dijalankan untuk meningkatkan daya saing industri nasional. Terdapat tiga proyek percontohan (pilot projects) yang ia usulkan.

Pertama, membangun kapabilitas dan daya saing pemasok (supplier). Kedua, mengembangkan layanan industri pendukung, seperti penyediaan utilitas bersama, logistik, dan fasilitas pengujian (testing). Ketiga, memperkuat kapabilitas rekayasa teknik (engineering), termasuk melalui adopsi dan peningkatan teknologi.