"Untuk menghindari akses sosial di sepanjang Gatot Subroto Barat yang pemukimannya sangat padat, tidak menutup kemungkinan kami akan membuat jalan di bawah tanah menuju Canggu dan sekitar. Selain itu, melonjaknya mobilitas pariwisata di koridor Gatsu-Canggu-Munggu membuat kami menyiapkan opsi jalan berbayar elektronik atau Electronic Road Pricing," ujar Adi Arnawa.
Penerapan jalan berbayar elektronik tersebut dirancang sebagai mengendalikan kemacetan lalu lintas sekaligus menjadi skema pembiayaan mandiri. Nantinya, retribusi dari sistem berbayar itu akan dialokasikan kembali untuk mendukung pengembalian pinjaman pembiayaan infrastruktur.
"Sebagai langkah jangka panjang, kami juga menjajaki keterlibatan BUMD untuk mengelola jalur cepat berbayar ini, sementara jalan yang sudah ada tetap digratiskan untuk masyarakat. Tak hanya itu, kami juga merancang pembangunan stadion internasional multiguna berskala besar melalui skema sponsor dan investasi swasta agar tidak membebani APBD secara penuh," ucap Adi Arnawa.