NADIKABAR.COM — Pakar perilaku konsumen IPB University Prof Megawati Simanjuntak membedah fenomena "downgrade lifestyle" pada kelas menengah yang ditandai dengan keputusan masyarakat mengurangi pengeluaran, memilih produk murah hingga menunda berbagai kebutuhan yang tidak mendesak.
"Dalam kajian ilmu keluarga dan konsumen, ini disebut strategi koping, yaitu cara keluarga menyesuaikan diri agar tetap bertahan. Berhemat dan mengganti produk dengan yang lebih murah merupakan bagian dari upaya tersebut, selain mencari tambahan penghasilan,” kata Prof Megawati Simanjuntak dalam keterangannya di Bogor, Jawa Barat, Rabu.
Fenomena downgrade lifestyle atau penurunan gaya hidup kini ramai dibicarakan di media sosial.
Ia mengamati dua hal menarik dari fenomena saat ini yakni perilaku tersebut kini banyak dilakukan kelompok kelas menengah yang selama ini dianggap relatif aman secara ekonomi, dan kedua, penyesuaian gaya hidup tersebut semakin terbuka dibicarakan di media sosial, bahkan menjadi konten.
"Dulu, mengganti kopi kafe dengan kopi saset mungkin cukup disimpan sendiri. Sekarang, justru diceritakan,” katanya.
Ia menilai, saat ini sebagian besar fenomena downgrade lifestyle di kalangan kelas menengah cenderung dipicu keterpaksaan. Penyebabnya, pendapatan tidak banyak bertambah, harga kebutuhan sehari-hari cenderung naik, dan kewajiban cicilan membuat ruang keuangan keluarga semakin terbatas.
Dari luar, kata dia, penghematannya tampak sama, padahal latarnya bisa berbeda. Jika dilakukan atas kesadaran mengelola keuangan, perilaku ini menjadi positif karena mengurangi tekanan gengsi berbelanja.
"Namun, jika karena daya tahan keuangan keluarga menipis, kondisi itu menjadi sinyal yang perlu diwaspadai,” tuturnya.