NADIKABAR.COM — Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono alias AHY mengaku bersyukur karena generasi muda masih mau menuliskan pandangannya di era akal imitasi (AI) yang marak digunakan.

AHY menyampaikan pernyataan tersebut setelah menghadiri peluncuran buku "Kepemimpinan AHY: Dalam Beragam Sudut Pandang Tokoh Muda Indonesia" yang ditulis oleh 27 orang dari beragam profesi serta disunting oleh Kepala Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra dan Deputi Analisa Data Informasi Partai Demokrat Mohammad Jibriel Avessina.

"Saya mengucapkan terima kasih dan mensyukuri bahwa ada keinginan yang baik dari generasi muda untuk terus menulis karena menulis itu adalah sebuah budaya yang baik di tengah era yang penuh dengan informasi, termasuk disinformasi dan misinformasi serta banyak juga yang menggunakan artificial intelligence (AI) dan lain sebagainya," kata AHY di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu.

Selain itu, dia memandang penerbitan buku tersebut sebagai hal yang mencerahkan karena 27 penulis berenjana dalam menulis.

"Sungguh mencerahkan ketika masih hadir para penulis yang juga memiliki passion (berenjana), memperhatikan sosok AHY dari jauh, dan kemudian menuliskan sejumlah hal yang menurutnya baik untuk dibaca oleh audiens yang lebih luas," katanya.

Sementara itu, dia menilai bahwa kepemimpinan adalah isu yang sangat mendasar, dan dibutuhkan pada seluruh lingkup profesi.

"Kepemimpinan itu juga dibutuhkan di semua lingkup profesi, termasuk dalam pemerintahan, dunia politik, dunia militer, dunia bisnis, atau bisa diaplikasikan secara universal," ujarnya.

Oleh sebab itu, dia mengharapkan buku tersebut dapat bermanfaat, serta tidak dinilai berlebihan oleh para pembacanya.

"Mudah-mudahan tidak berlebihan karena ini bukan sesuatu yang dibuat-buat, tetapi sebuah observasi atau testimoni yang genuine, yang orisinal, dan mudah-mudahan ada manfaat yang baik untuk siapa pun yang membacanya," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Herzaky mengharapkan buku yang disuntingnya tersebut dapat membuat pembaca mendiskusikan topik kepemimpinan secara terbuka.

"Kami ingin agar kepemimpinan di Indonesia didiskusikan secara terbuka, termasuk jejak rekamnya. Bukan karena sering menang, sering kalah, bukan, tetapi jejak rekamnya, keputusannya, dan hasil dari keputusannya yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat," katanya.