"(Integrasi data-dukungan AI) ini juga berlaku bagi lahan-lahan pertanian lainnya. Artinya, para lulusan pertanian hari ini punya banyak opsi; karena jika kamu analitis, berwawasan, gigih, dan punya jejaring luas, kamu bisa kerja di Australia, Amerika Serikat, atau di Indonesia, Eropa, dan sebagainya," ujarnya.
Ia mencontohkan, lulusan pertanian dengan hard skill yang baik juga dapat memformulasikan tanaman pangan khas negara asalnya agar dapat ditanam dengan sangat baik di negara lain.
"Di tengah dampak perubahan iklim pada sistem tanam kami, banyak tanaman pertanian yang tumbuh di Asia akan cocok juga untuk tumbuh di Australia. Bahkan, rasanya bisa jadi lebih enak, lebih berwarna, juga," ucapnya.
Professor of Human-Computer Interaction (HCI) in the School of Computing and Information Systems sekaligus Pro-Vice Chancellor (Global) Unimelb, Prof Frank Vetere mengatakan, AI juga diintegrasikan dalam kurikulum prodi-prodi di kampusnya.
Namun, lebih dari itu menurut Vetere, integrasi AI di bidang pertanian sendiri khususnya seru bagi anak muda Indonesia. Ia berpendapat, dengan perkembangan pesat startup di Indonesia, integrasi AI di bidang pertanian juga bisa dikembangkan ke bisnis.
Selaras, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr Eni Harmayani menilai anak muda Indonesia juga khususnya tertarik dengan rumah kaca (greenhouse) berbiaya rendah yang dilengkapi teknologi terkait atau semacam smart farming.