NADIKABAR.COM — Ajang Inspiring Asia: Micro Film Festival 2026 sukses menyedot antusiasme publik. Festival film berbasis kepedulian sosial ini tercatat menembus lebih dari 7.000 penonton yang tersebar di 38 provinsi di seluruh Indonesia.
Penyelenggaraan festival ini, mengusung format unik dengan menyertakan partisipasi masyarakat luas melalui tahapan community vetting untuk mengkurasi serta mengapresiasi karya-karya para finalis.
Deputy Program Director Bakti Pendidikan Djarum Foundation, Felicia Hanitio, membeberkan sengitnya persaingan antarsineas muda. Ketatnya perolehan nilai antarfinalis bahkan sempat membuat dewan juri berada di posisi seri, hingga akhirnya disepakati adanya juara bersama.
"Tadi sebenarnya pas ngobrol dengan Mas Zaidy, sulit sekali ya menentukan satu pemenang. Skornya tie dan akhirnya diputuskan jadi ada pemenang bersama," kata Felicia Hanitio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, kemarin.
Felicia Hanitio menilai, karya yang lahir tahun ini membuktikan tingginya kepekaan serta rasa ingin tahu sineas muda, terhadap dinamika persoalan sosial di lingkungan sekitar.
"Cirinya tuh anak muda yang rasa ingin tahunya tinggi, terus mereka gali dan akhirnya berkarya untuk mengangkat perspektif yang mereka pelajari" bebernya.
Apresiasi senada datang dari Head of Program Campaign for Good, Ahmad Aziz, yang menyambut gembira tingginya keterlibatan masyarakat dari berbagai pelosok negeri.
"Kita mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia. Ada 38 provinsi yang berpartisipasi dan lebih dari 7.000 orang yang menonton film-film teman-teman finalis," ujar Ahmad Aziz.
Mengusung tema utama pemberdayaan komunitas, festival tahun ini turut melahirkan gebrakan anyar dengan menghadirkan kategori film berbasis AI. Kategori ini dibuka demi mewadahi para kreator dalam memaksimalkan inovasi teknologi pada proses kreatif.
"Tahun ini kita juga ada kategori AI. Itu salah satu tools yang bisa digunakan teman-teman untuk berkarya," Ahmad Aziz.
Sorotan positif juga diungkapkan oleh Head of Strategic & Impact Communications Tanoto Foundation, Deviani Wulandari. Menurutnya, film berdurasi mikro merupakan medium storytelling yang sangat ampuh dalam membedah persoalan rumit sekaligus menyebarkan praktik-praktik baik ke ranah publik.
"Saya sangat applause buat para finalis yang telah bekerja keras mengangkat isu yang mungkin belum banyak dikenal orang," ucap Deviani Wulandari.