Menurut laporan tersebut, Indonesia memiliki posisi strategis karena merupakan ekonomi terbesar di ASEAN, menghadapi pertumbuhan permintaan listrik yang pesat, dan masih bergantung pada batu bara. Di sisi lain, Indonesia memiliki potensi energi terbarukan serta rantai pasok energi bersih yang dapat mendukung transisi energi.
Perkembangan industri mineral kritis juga membuka peluang investasi, tetapi berpotensi meningkatkan kebutuhan listrik sektor industri dan penggunaan pembangkit listrik mandiri atau captive power.
Rebecca mengatakan Indonesia telah memiliki fondasi perencanaan ketenagalistrikan yang kuat melalui Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN), Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), dan peta jalan transisi energi sektor ketenagalistrikan.
Tantangan utamanya, menurut AIGCC, bukan lagi ketiadaan rencana, melainkan menyelaraskan berbagai kebijakan dan menerjemahkannya menjadi proyek yang layak dibiayai.
RUPTL 2025–2034 memperkirakan kebutuhan investasi sebesar 188 miliar dolar AS, dengan sekitar 73 persen diharapkan berasal dari modal swasta. Karena itu, investor membutuhkan kejelasan mengenai mekanisme pengadaan proyek, sumber pendapatan, pembagian risiko, dan kesiapan jaringan listrik.