"Sekitar 73 persen dari kebutuhan investasi 188 miliar dolar AS dalam RUPTL diharapkan berasal dari modal swasta. Artinya, keberhasilan rencana ini sangat bergantung pada kesiapan investor untuk masuk," katanya.

AIGCC juga menyoroti pentingnya memperjelas arah transisi pembangkit batu bara, termasuk pembangkit captive, serta memastikan kesiapan teknologi dan pelaksanaan proyek sesuai rencana.

Selain itu, AIGCC menyambut baik program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp) sebagai sinyal arah pengembangan ketenagalistrikan Indonesia. Namun, investor akan mencermati bagaimana program tersebut beralih dari pengumuman ke tahap pelaksanaan.

AIGCC menilai pentingnya peta jalan transisi ketenagalistrikan yang jelas untuk menarik investasi swasta skala besar dalam mendukung percepatan transisi energi di Indonesia.

Kejelasan mengenai kebutuhan pembiayaan, kesiapan daftar projek, serta pembagian risiko, menjadi faktor penting untuk menerjemahkan target transisi energi menjadi realisasi investasi.