Kala itu, Ibrahim tergabung dalam Batalyon Infanteri 501/Bajra Yudha. "Almarhum itu leting 75 dari Batalyon Infanteri 501/Bajra Yudha. Dulu itu mereka yang jadi kombatan pertama pas Operasi Seroja di Timor-Timur," terang Siti.

Menurut Siti, dalam operasi tersebut, seorang Danton bernana Lagawurin gugur tertembak saat sedang membaca peta untuk memburu pasukan Fretilin. Saat ini, jasadnya tidak berhasil dievakuasi dari lokasi.

"Menurut suami bahwa Pak Lagawurin itu tertembak di kepalanya jadi beliau saat itu yang berupaya mengevakuasi jenazahnya, tapi karena Fretilin terus melancarkan serangan sehingga suami hanya bisa bawa topinya dan jaketnya saja," beber Siti.

Atas perjuangannya, Ibrahim dianugerahi gelar Kehormatan Veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia pada 23 Oktober 2009 di Jakarta. Selain itu, Ibrahim mendapat tunjangan awalnya sebesar Rp 250 ribu.

"Sampai beliau masih hidup itu sempat kami terima Rp 1.850.000. Beliau pensiun tahun 2002 dan jabatan terakhirnya itu Danramil 1625-05/Aesesa, di bawah Kodim 1625/Ngada," kata Siti.

Siti menerangkan mereka dikaruniai dua orang anak, yakni seorang laki-laki yang kini bertugas di Satpol PP Kabupaten Ende. Kemudian anak bungsunya adalah perempuan bernama Septi Kurniati Purnamasari.

Septi saat ini sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hongkong setelah gagal mengikuti seleksi Perwira Prajurit Karier (PA PK) TNI AD pada 2018-2019 dan masuk 10 besar. Namun, tak tak lulus. "Septi ini yang gigih mau gantikan posisi dan jejak bapaknya, tetapi karena gagal ikut tes makanya dia pikiran dan memilih jadi TKW di Hongkong," imbuh Siti.

Ia berharap adanya perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto untuk Septi yang merupakan anak veteran perang Timor-Timur. Selain itu, Septi merupakan atlet Taekwondo yang sempat meraih medali emas di tingkat kabupaten dan provinsi.

"Semoga ada perhatian dari Pak Prabowo Subianto untuk anak saya ini. Dia juga lulusan kebidanan di Universitas Muhammadiyah Mataram, dan atlet taekwondo" pungkas Siti.