NADIKABAR.COM — Terik matahari di pesisir utara Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), terasa menyengat. Siti Sulbiati (57) tampak duduk menyendiri di sebuah bale-bale yang dinaungi sebuah pohon tepat di depan rumahnya. Siti merupakan warga Desa Nangadhero, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo.

Tutur katanya lembut kala menyapa dan mempersilakan setiap tamu untuk duduk di kursi. Rumahnya hanya berdinding pelupuh bambu, tetapi sudah termakan usia.

Rumah peninggalan suaminya ini menjadi saksi bisu saat guncangan gempa bumi magnitudo 7,7 tiga pekan lalu. Siti yang saat itu tengah tertidur pulas kaget lalu melompat dari atas dipan.

Nahas, guncangan dahsyat itu membuatnya terjatuh, tetapi ia segera bangkit. Pagi itu, suaranya lantang meneriaki tetangganya untuk keluar meninggalkan rumah. Saat itu, Siti belum bisa lari keluar karena kunci pintunya tercecer akibat guncangan.

Di tengah situasi gelap, ia merangkak perlahan-lahan untuk mencari kunci itu agar bisa keluar rumah. Situasi semakin rumit, barang-barang di dalam rumahnya jatuh berhamburan.

Sebuah etalase kaca tempat menyimpan kunci rumahnya juga hancur. Tak berselang lama, Siti menemukan kunci tersebut. Ia kemudian membuka pintunya untuk meloloskan diri.

Siti hanya menyelamatkan dua sarung dan sebuah koper berisi surat-surat berharganya. Saat di luar rumah, sebuah pikap sudah bersiaga untuk mengevakuasi mereka ke lokasi yang aman.

Saat hendak berangkat, tetangga Siti yang sudah lama menderita stroke masih bertahan di rumahnya. Melihat itu, Siti memerintahkan semuanya agar mengevakuasinya.

Padahal air laut semakin naik dan merendam rumah-rumah di pesisir itu. Beruntung pria stroke bernama Yohan itu berhasil dievakuasi dan dibawa bersama rombongan ke tempat aman.

"Waktu itu seandainya kalau tsunaminya besar, mungkin kami habis semua," ujar Siti saat ditemui di kediamannya sore tadi, Selasa (1/9/2026).

Meski sudah di tempat ketinggian, perasaan Siti belum tenang karena tiga anak yatim piatu yang diasuh sejak kecil belum ditemukan. Sebelum kejadian, ketiga anak itu tidur terpisah dengannya.

Siti mulai menyusuri lorong hingga jalan setapak untuk mencari satu per satu. Tiba di sebuah rumah, Siti melihat ketiga anak itu sedang duduk dan menyaksikan orang-orang santap makan.

Perasaan Siti hancur karena ketiganya sama sekali tak membawa uang sepeser pun. Ia lantas memberikan mereka uang secukupnya saja agar bisa membeli jajanan. Siti sempat berpesan agar menghemat.

Siti kemudian meninggalkan mereka untuk mencari tenda. Akhirnya mereka bisa mendirikan tenda di Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa.

"Awalnya itu kan kami tidur terpisah sehingga saat kejadian juga saya kami tidak saling baku tahu keberadaan masing-masing. Ini yang membuat saya pikiran sekali karena saya yang urus setelah orang tua mereka meninggal," tutur Siti.

Hal ini membuat Siti tak mampu menahan air matanya. Ia histeris saat mengisahkan kembali momen tersebut. Siti sesekali mengangkat kedua tangannya yang sudah keriput untuk menyeka tetesan air mata yang terus membasahi pipinya.

Selama ini Siti menganggap ketiga anak tersebut seperti anak kandungnya sendiri. Bagi Siti, hidup serba kekurangan asalkan masa depan mereka tidak sirna dalam mengenyam pendidikan.

Perempuan berjilbab hitam itu kini berstatus janda. Suaminya bernama Serma Syafrudin Ibrahim merupakan purnawirawan TNI AD dan juga veteran Operasi Seroja di Timor-Timur kala belum menentukan nasibnya sendiri.

Ibrahim merupakan salah satu prajurit yang terjun langsung dalam Operasi Seroja di Timor-Timur yang dimulai pada 7 Desember 1975. Operasi ini dikenal sebagai invasi militer besar-besaran dari Indonesia untuk memburu pasukan pro kemerdekaan, yakni Fretelin.

Kala itu, Ibrahim tergabung dalam Batalyon Infanteri 501/Bajra Yudha. "Almarhum itu leting 75 dari Batalyon Infanteri 501/Bajra Yudha. Dulu itu mereka yang jadi kombatan pertama pas Operasi Seroja di Timor-Timur," terang Siti.

Menurut Siti, dalam operasi tersebut, seorang Danton bernana Lagawurin gugur tertembak saat sedang membaca peta untuk memburu pasukan Fretilin. Saat ini, jasadnya tidak berhasil dievakuasi dari lokasi.

"Menurut suami bahwa Pak Lagawurin itu tertembak di kepalanya jadi beliau saat itu yang berupaya mengevakuasi jenazahnya, tapi karena Fretilin terus melancarkan serangan sehingga suami hanya bisa bawa topinya dan jaketnya saja," beber Siti.

Atas perjuangannya, Ibrahim dianugerahi gelar Kehormatan Veteran Pembela Kemerdekaan Republik Indonesia pada 23 Oktober 2009 di Jakarta. Selain itu, Ibrahim mendapat tunjangan awalnya sebesar Rp 250 ribu.

"Sampai beliau masih hidup itu sempat kami terima Rp 1.850.000. Beliau pensiun tahun 2002 dan jabatan terakhirnya itu Danramil 1625-05/Aesesa, di bawah Kodim 1625/Ngada," kata Siti.

Siti menerangkan mereka dikaruniai dua orang anak, yakni seorang laki-laki yang kini bertugas di Satpol PP Kabupaten Ende. Kemudian anak bungsunya adalah perempuan bernama Septi Kurniati Purnamasari.

Septi saat ini sebagai pekerja migran Indonesia (PMI) di Hongkong setelah gagal mengikuti seleksi Perwira Prajurit Karier (PA PK) TNI AD pada 2018-2019 dan masuk 10 besar. Namun, tak tak lulus. "Septi ini yang gigih mau gantikan posisi dan jejak bapaknya, tetapi karena gagal ikut tes makanya dia pikiran dan memilih jadi TKW di Hongkong," imbuh Siti.

Ia berharap adanya perhatian serius dari Presiden Prabowo Subianto untuk Septi yang merupakan anak veteran perang Timor-Timur. Selain itu, Septi merupakan atlet Taekwondo yang sempat meraih medali emas di tingkat kabupaten dan provinsi.

"Semoga ada perhatian dari Pak Prabowo Subianto untuk anak saya ini. Dia juga lulusan kebidanan di Universitas Muhammadiyah Mataram, dan atlet taekwondo" pungkas Siti.