Kemunculan makam-makam kuno ini biasanya menjadi daya tarik bagi wisatawan untuk berkunjung ke Waduk Gajah Mungkur.

"Belum (banyak wisatawan yang datang), paling satu dua orang datang foto-foto saja. Kebanyakan yang kesini ya orang mancing, sama ke sawah (petani)," ujar Karni.

Makam-makam kuno ini cukup sulit dijangkau. Pengunjung harus berjalan kaki melewati dasar waduk yang mengering. Aksesnya berupa tanah basah.

Menurut Camat Wuryantoro, Soemardjono Fadjari, kemunculan makam-makam kuno di Waduk Gajah Mungkur merupakan fenomena tahunan saat musim kemarau.

"Setiap kemarau biasanya makam-makam itu mulai terlihat. Tapi ini baru sebagian, karena airnya masih cukup tinggi," kata Soemardjono saat dihubungi wartawan, Rabu (9/9/2026).