"Kuncinya, kalau kita tidak tahu apa yang akan dipecahkan, jangan melakukan riset. Pada awalnya AirNav berani mengambil risiko karena melibatkan kampus. Tetapi, post benefit-nya tinggi sekali," ujarnya.
Ia mengatakan model kolaborasi antara industri dan perguruan tinggi perlu terus diperkuat untuk mendukung kemandirian serta meningkatkan daya saing teknologi Indonesia.
Fauzan juga mendorong perguruan tinggi dan industri untuk mengidentifikasi persoalan yang membutuhkan penyelesaian sebelum mengembangkan teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, riset diharapkan tidak berhenti pada pengembangan prototipe, tetapi berlanjut hingga menghasilkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan industri.
Wakil Rektor IV Telkom University Bidang Riset, Inovasi, dan Kerja Sama Angga Rusdinar mengatakan hasil penelitian bersama AirNav Indonesia tidak langsung diterapkan dalam operasional, tetapi harus melalui tahapan pengujian, evaluasi, dan validasi sesuai kebutuhan serta kriteria yang disepakati.
"AirNav Indonesia memiliki kebutuhan nyata. Bagi kami, itu penting karena riset yang baik harus punya persoalan yang jelas untuk diselesaikan. Karena itu, kerja sama ini bukan hanya untuk menghasilkan penelitian, tetapi juga bagaimana hasilnya bisa digunakan," katanya.
Pada kesempatan yang sama, Telkom University memberikan penghargaan kepada AirNav Indonesia atas kontribusi dan dukungannya dalam pengembangan kolaborasi riset, teknologi, dan inovasi di bidang kecerdasan artifisial serta keamanan siber.
Penghargaan tersebut diterima Direktur Keselamatan, Keamanan, dan Standardisasi AirNav Indonesia Capt. Nurcahyo Utomo yang mewakili perusahaan.
Forum SATRIA 2026 mengangkat tema Connecting Leaders, Research, and Industry for Trustworthy AI dan mempertemukan pemerintah, industri, perguruan tinggi, serta peneliti untuk memperkuat kolaborasi riset, pengembangan talenta, dan penerapan teknologi AI serta keamanan siber.