"Saya percaya bahwa menyelamatkan budaya bukan hanya melindungi sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai di dalamnya," katanya.
Citra pun kemudian mengaitkan jawabannya dengan busana yang dikenakannya malam itu. Ia menyinggung batik pucuk rebung yang menurutnya memiliki makna filosofis mengenai hubungan manusia dengan Tuhan dan sesama.
"Batik pucuk rebung ini yang saya pakai malam ini memiliki makna yang dalam, 'Hablumminallah wa Hablumminannas'," kata Citra.
Ia menambahkan, manusia tidak hanya memiliki hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia. Karena itu, menurut Citra, perkembangan Jakarta sebagai kota global seharusnya berjalan beriringan dengan upaya menjaga dan merawat budaya.
"Untuk itu, mari kita melindungi budaya untuk masa depan Jakarta," ujarnya.
Jawaban Pierre dan Citra memperlihatkan dua isu yang saling melengkapi dalam melihat masa depan Jakarta. Di satu sisi pengembangan ekonomi kreatif dipandang sebagai ruang berkarya bagi anak muda, namun di sisi lain identitas budaya menjadi fondasi utama di tengah arus globalisasi.
Keduanya membawa pesan serupa bahwa masa depan Jakarta tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik dan ekonomi. Peran aktif generasi muda serta pelestarian identitas kota dinilai sama pentingnya dalam menghadapi perubahan zaman.