Menurutnya, investasi perlu menghasilkan peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas produk, inovasi teknologi, serta kemampuan industri dalam menembus pasar global.

Karena itu, Sarlina turut mengapresiasi perhatian Chief Executive Officer (CEO) Danantara Rosan Perkasa Roeslani terhadap agenda investasi dan penguatan sektor industri nasional.

"Danantara memiliki posisi strategis dalam mendorong investasi jangka panjang yang dapat memberikan nilai tambah bagi perekonomian Indonesia," ujarnya.

Ia menekankan dukungan terhadap industri tekstil akan semakin berarti apabila diarahkan pada modernisasi teknologi, penguatan rantai pasok, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pengembangan pasar ekspor.

Sarlina menegaskan, investasi pada industri tekstil harus menghasilkan nilai tambah yang nyata. Ukurannya, kata dia, bukan hanya besarnya dana yang masuk, tetapi juga peningkatan produktivitas, efisiensi, kualitas, ekspor, penyerapan tenaga kerja, dan keberlanjutan industri.

Secara historis, industri tekstil pernah menjadi salah satu sektor penting dalam perkembangan manufaktur Indonesia. Karena itu, revitalisasi industri tekstil saat ini dapat menjadi momentum untuk membangun kembali kekuatan sektor tersebut dengan pendekatan yang lebih modern dan sesuai dengan perkembangan teknologi.

Ia juga mengungkapkan tantangan industri tekstil saat ini tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek. Diperlukan transformasi menyeluruh yang mencakup teknologi, sumber daya manusia, tata kelola, pembiayaan, rantai pasok, inovasi, serta akses pasar.

"Industri tekstil Indonesia perlu bergerak menuju industri yang lebih produktif, berbasis teknologi, inovatif, efisien, dan memiliki daya saing global," jelasnya.