Selain aspek investasi dan modernisasi, Sarlina menekankan pentingnya tata kelola dan akuntabilitas dalam setiap investasi berskala besar.
Menurutnya pula setiap investasi harus disertai indikator kinerja yang jelas agar dampaknya dapat diukur secara transparan. Keberhasilan revitalisasi industri tekstil nantinya tidak hanya dapat dilihat dari meningkatnya kapasitas produksi, tetapi juga dari dampaknya terhadap perekonomian secara lebih luas.
Indikator tersebut antara lain peningkatan produktivitas industri, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, penguatan industri pendukung, peningkatan daya saing produk nasional, serta kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi.
"Sinergi antara pemerintah, Danantara, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga keuangan, dan tenaga kerja menjadi faktor penting dalam memastikan agenda revitalisasi berjalan secara berkelanjutan," ucap Sarlina.
Menurut dia, momentum revitalisasi perlu dimanfaatkan untuk membangun industri tekstil nasional dengan fondasi yang lebih kuat. Dengan investasi tepat sasaran, tata kelola yang baik, modernisasi teknologi, dan orientasi pada peningkatan produktivitas, industri tekstil dapat kembali menjadi salah satu bagian penting dari kekuatan manufaktur Indonesia.
Perhatian Presiden Prabowo dan langkah Danantara tersebut, lanjut Sarlina, pada akhirnya menjadi bagian dari agenda yang lebih luas untuk memperkuat struktur industri nasional.
"Tantangannya adalah memastikan kebijakan dan investasi yang dirancang dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas industri, daya saing, ekspor, serta manfaat ekonomi yang berkelanjutan bagi masyarakat," katanya.