Meski demikian, Cumins menegaskan penggunaan AI dalam rekayasa infrastruktur harus tetap berada di bawah kendali penilaian manusia dalam hal ini insinyur. Alasannya, keputusan teknis memiliki konsekuensi langsung terhadap keselamatan publik.
"AI dapat membantu menghasilkan berbagai alternatif desain dan melakukan optimalisasi dengan cepat, tetapi keputusan yang melibatkan pertimbangan teknis, keberlanjutan, dan risiko tetap membutuhkan penilaian manusia," kata dia.
Adapun pemerintah bersama sejumlah unsur terkait memanfaatkan teknologi akal imitasi untuk mendukung pembangunan infrastruktur jalan di IKN.
Salah satu penerapan teknologi tersebut dilakukan melalui penggunaan alat automatic compactor (pemadat otomatis) untuk membantu proses memadatkan tanah dalam pekerjaan konstruksi jalan.
Teknologi itu dimanfaatkan dalam pembangunan sejumlah infrastruktur jalan di IKN, termasuk Jalan Sumbu Kebangsaan yang berada di Kawasan Inti Pusat Pemerintahan (KIPP).
Pemerintah terus mengembangkan pemanfaatan AI dalam pembangunan infrastruktur jalan dan jembatan. Penerapan teknologi tersebut mencakup berbagai bidang, antara lain robotik, simulasi, dan peningkatan keselamatan lalu lintas.