Aksi balas dendam ini dipicu oleh insiden beberapa jam sebelumnya di lobi Hotel MGM Grand usai pertandingan tinju Mike Tyson. Saat itu, Tupac dan rombongannya menganiaya keponakan Davis, Orlando "Baby Lane" Anderson, akibat perselisihan lama terkait perebutan piala Death Row Records. Davis bersama tiga rekannya dalam mobil Cadillac putih kemudian membuntut hingga penembakan maut itu terjadi.

Fakta menarik yang terungkap di persidangan adalah bagaimana pengakuan Davis sendiri yang akhirnya meruntuhkan kebebasannya. Selama hampir 18 tahun, Davis dengan gamblang menceritakan keterlibatannya di berbagai media, acara dokumenter BET, hingga buku memoarnya yang rilis pada 2019 bertajuk "Compton Street Legend".

Ia bahkan pernah membeberkan kronologi penembakan kepada pihak kepolisian LAPD pada 2008 saat diperiksa terkait kasus pembunuhan rapper Notorious B.I.G. (Biggie Smalls). Meskipun kesaksian 2008 itu awalnya bersifat rahasia dalam perjanjian pembelaan kasus narkoba, pengakuan publik Davis yang diulang-ulang di berbagai kanal media dan wawancara YouTube akhirnya menjadi bukti sah di meja hijau.

Jaksa menegaskan bahwa persidangan ini diperkuat bukti petunjuk yang sangat solid di luar pengakuan Davis. Di sisi lain, tim kuasa hukum Davis yang dipimpin Michael Sanft berupaya keras membela kliennya dengan menyebut pengakuan Davis hanyalah cerita fiksi belaka.