NADIKABAR.COM — Erik Setiawan (16), remaja asal Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kabupaten Cianjur, mengembuskan napas terakhir pada Senin (14/9/2026) pagi. Pemuda yang berjuang melawan penyakit TB Tulang selama dua tahun terakhir ini meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di sebuah rumah sakit di Sukabumi.
Kepala Desa Cibuluh, Ana Supriatna, mengonfirmasi bahwa kondisi kesehatan Erik menurun drastis dan sempat kehilangan kesadaran pada Minggu (13/6/2026) malam. Meski tim medis telah berupaya maksimal, nyawa Erik tidak tertolong.
"Betul tadi pagi meninggal dunia. Di Rumah Sakit Bunut Sukabumi," ujar dia.
Menurut Ana, penderitaan Erik bermula dari sebuah insiden jatuh dua tahun silam. Kondisinya terus memburuk hingga didiagnosis mengidap penyakit serius.
"Erik sempet jatuh, kemudian sakit. Setelah diperiksa lantaran penyakitnya tak kunjung sembuh, ternyata Erik menderita TB tukang," kata dia.
Kondisi fisik Erik sebelum wafat sangat memprihatinkan. Penyakit tersebut membuat jaringan kulit dan dagingnya mengelupas hingga memperlihatkan tulang di beberapa bagian tubuh. Dalam beberapa bulan terakhir, Erik bahkan sudah tidak mampu berdiri maupun berjalan.
"Sejak beberapa bulan terakhir tidak bisa lagi berdiri, apalagi berjalan. Makanya terpaksa ditandu untuk berobat, melalui jalan yang rusak," kata dia.
Camat Cidaun, Gagan Rusganda, menjelaskan bahwa pihak medis sebenarnya berencana merujuk Erik ke RSHS Bandung. Namun, rencana tersebut terkendala kondisi fisik Erik yang terus merosot, sehingga perjalanan jauh dianggap terlalu berisiko.
"Awalnya kemarin akan dirujuk, tapi kondisinya memburuk. Tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Tapi hingga pagi tadi tidak kunjung membaik dan akhirnya meninggal dunia," kata dia.
Saat ini, pihak kecamatan dan desa telah berkoordinasi untuk memulangkan jenazah Erik ke rumah duka. "Untuk ambulance kami siapkan. Kami anter sampai ke rumah duka," kata dia.
Selain Erik, Gagan menyatakan pihaknya juga terus memantau Siti Lestari (15), warga setempat yang juga mengidap penyakit serupa dan kini tengah menjalani perawatan di Bandung.
"Untuk Siti masih dirawat di Bandung. Kami pantau kondisinya secara berkala. Kami harap dengan penanganan yang berkelanjutan, Siti bisa sembuh," kata dia.
Sebelumnya, kisah Erik dan Siti sempat memicu keprihatinan publik. Akibat infrastruktur jalan yang rusak parah di Desa Cibuluh, keduanya terpaksa ditandu oleh warga menggunakan kain sarung dan sebilah bambu untuk mencapai layanan kesehatan.
Siti harus ditandu sejauh 10 kilometer menuju Kabupaten Garut, sementara Erik harus ditandu sejauh 3 kilometer sebelum akhirnya bisa dijemput kendaraan roda empat untuk dibawa ke Puskesmas Cidaun dan rumah sakit di Bandung. Kondisi jalan yang tidak memadai menjadi hambatan utama bagi kedua remaja ini dalam mengakses bantuan medis selama bertahun-tahun.