NADIKABAR.COM — Psikolog olahraga dan kesehatan Carly Hunt Ph.D. menjelaskan bahwa sensasi nyeri yang masih bertahan kendati cedera fisik telah dinyatakan sembuh umumnya disebabkan oleh sistem saraf yang menjadi terlalu sensitif dalam merespons sinyal ancaman tubuh.
Dikutip dari ulasan Psychology Today pada Selasa (22/9) waktu setempat, Hunt memaparkan bahwa otak dan sistem saraf memegang kendali utama dalam memproses rasa sakit. Pascatrauma cedera, sistem saraf kerap "terlatih" untuk terus membunyikan alarm perlindungan tubuh meski jaringan fisik sebenarnya sudah pulih total.
Kondisi tersebut berkaitan erat dengan mekanisme neuroplastisitas, yakni kapasitas sistem saraf untuk beradaptasi dan berubah berdasarkan pengalaman masa lalu.
"Rasa sakit yang dirasakan seseorang itu tetap nyata," tegas Hunt, ketika meluruskan anggapan keliru bahwa nyeri pascacedera hanyalah ilusi atau imajinasi pasien semata.
Menurut dia, persepsi nyeri di otak dipicu oleh sinyal biologis dari organ tubuh yang juga turut dipengaruhi oleh kondisi psikologis, beban pikiran, gejolak emosi, interaksi sosial, hingga rutinitas harian. Hal inilah yang membuat ambang kepekaan saraf setiap individu berbeda-beda.
Terkait penanganannya, Hunt menyarankan sejumlah pendekatan berbasis psikologis untuk meredakan nyeri kronis. Salah satunya melalui Pain Reprocessing Therapy (terapi pemrosesan ulang nyeri), yang dirancang untuk melatih kembali cara otak memandang sensasi fisik dan meyakinkan tubuh bahwa kondisi tersebut sudah tidak lagi berbahaya.
Pendekatan lain yang dianjurkan adalah latihan mindfulness (kesadaran penuh). Metode ini melatih pasien untuk mengamati sensasi fisik dan emosi secara netral tanpa langsung memberikam vonis sebagai tanda bahaya.
Selain terapi kognitif, keterlibatan dalam kegiatan rekreasional dan interaksi sosial yang menyenangkan juga dinilai efektif mengalihkan fokus otak dari sensasi nyeri, sekaligus mempercepat pemulihan psikologis.
Kendati demikian, Hunt mengingatkan pasien untuk tetap berkonsultasi dengan dokter dan tim medis profesional sebelum mencoba metode perawatan baru, guna memastikan rencana penanganan nyeri kronis berjalan tepat sasaran sesuai kondisi fisik masing-masing.
Penerjemah: Farika Nur Khotimah