"Bahkan mungkin setiap hari kita lihat, bahkan Ibu-ibu kalau masak pakai Bosch itu buatan Jerman gitu ya. Yang punya mobil pakai buatan Jerman. Yang naik motor juga sebagian yang elit-elit kan buatan Jerman," tuturnya.
Ke depannya, Tatang dan Kemendikdasmen akan memetakan bagaimana kesiapan bekerja di Jerman. Namun untuk saat ini, Kemendikdasmen fokus dahulu dalam mengintip pendidikan vokasinya. "Tapi ini baru tahap pertama. Insyaallah nanti ke depan kita kembangkan lebih luas lagi karena tidak hanya kemajuan dari sisi industri dan juga pendidikan vokasinya, tapi juga bagaimana nanti dengan kebekerjaan luar negerinya," tutur Tatang.
Selain meningkatkan skill dan bekal untuk mengajar murid, para guru juga harus menyiapkan para murid SMK siap bekerja di luar negeri. Sehingga seleksinya sangat ketat.
"Mereka menyeleksi sangat ketat karena jumlahnya sangat sedikit dan juga agar lebih optimal bagaimana mereka betul-betul bisa menyerap pembelajaran dan juga menyerap praktik secara lebih baik. Dan di sinilah kita bisa melihat tadi mereka tidak hanya cepat memahami dalam konteks bahasa, dan yang kedua rata-rata juga relatif bukan hanya di bidangnya saja tapi juga relatif lebih muda gitu ya," kata Tatang.
Program yang diikuti oleh 50 guru ASN ini bertujuan untuk menyelaraskan kompetensi tenaga pendidik di Indonesia dengan standar dunia. Selama tiga bulan, para guru akan ditempatkan di dua lokasi utama, yakni Technical University (TU) of Dresden (34 guru) dan Festo Germany (16 guru).