Di samping itu Adaksi menilai tingginya pengangguran lulusan perguruan tinggi tidak tepat apabila semata-mata dibaca sebagai bukti bahwa Indonesia sudah terlalu banyak sarjana.

Menurut dia, persoalan lulusan perguruan tinggi harus dilihat dari dua sisi sekaligus, yakni kesiapan perguruan tinggi dan kemampuan perekonomian menciptakan pekerjaan berkualitas.

"Dari sisi kampus memang ada pekerjaan rumah. Kurikulum dan mata kuliah harus semakin relevan dengan perubahan pekerjaan, teknologi, kebutuhan industri, kewirausahaan, dan kompetensi masa depan. Perguruan tinggi perlu lebih kuat menghubungkan pembelajaran dengan proyek nyata, magang, penelitian terapan, industri, serta persoalan yang benar-benar dihadapi masyarakat," ujarnya.