Ketegangan tim redaksi Aljazair dan UEA sebenarnya sudah berlangsung cukup lama. Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune, beberapa kali menuduh UEA berupaya mengganggu stabilitas negara-negara di kawasan, termasuk Libya, Mali, dan Sudan.
"Di mana pun mereka menginjakkan kaki, darah mengalir. Kami ingin mereka menjauh agar darah tidak mengalir di negara kami," tegas Presiden Abdelmadjid.
Perselisihan kedua negara juga dipengaruhi perbedaan kebijakan luar negeri. Aljazair menilai keterlibatan UEA di Afrika Utara dan kawasan Sahel bertentangan dengan prinsip politik luar negerinya serta menjadi ancaman tidak langsung terhadap keamanan Aljazair. Perbedaan sikap semakin terlihat setelah UEA menormalisasi hubungan dengan Israel pada 2020.