Tubuhnya yang dimakan usia tetap tegak, menatap sang tamu agung bukan dengan tatapan seorang bawahan kepada tuannya, melainkan dengan pandangan seorang guru kepada murid. Saat jemari mereka bertaut, tak ada punggung yang membungkuk berlebihan dari sang kiai. Tak ada cemas yang membayang di matanya.
βAtmosfer kaku kenegaraan seketika bergeser saat Kiai Hasan menaiki mimbar. Tanpa basa-basi diplomatik yang dibuat-buat, ia menyapa kepala negara dengan seloroh lugas.
"Bapak Presiden, saya ngomong agak tidak enak ya, Pak. Sorry ye..." kata Kiai Hasan dengan bersahaja. Kalimat itu disambut tawa dan tepuk tangan hadirin, meruntuhkan sekat-sekat protokoler.
βNamun dari mimbar yang sama, Kiai Hasan menunjukkan bagaimana sebuah kepemimpinan diuji oleh kesetaraan dan transparansi. Di hadapan sang Presiden, ia membongkar filosofi dasar tata kelola Gontor yang menolak kemewahan elit dan menempatkan pimpinan setara dengan yang dipimpinnya. Dengan nada mantap, ia menegaskan batas etik yang berlaku di dalam tembok pesantrennya.