"Pimpinan Gontor itu tidak boleh hidup lebih mewah dari santri. Kalau yang saya makan, kalau yang saya pakai lebih dari santri, kendaraan santri, rumah santri, protes boleh, didemo boleh!"

​Pernyataan tersebut bukan sekadar aturan internal lembaga, melainkan tamparan halus namun tajam bagi iklim kepemimpinan publik, dari tingkat terendah hingga tertinggi di Indonesia.

Kiai Hasan memberi kuliah terbuka mengenai legitimasi moral, bahwa pimpinan, baik di pesantren maupun di pemerintahan, agar tidak terlampau jauh dengan rakyat yang dilayaninya, serta membuka pintu seluas-luasnya bagi koreksi dan otokritik.