"Kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap solid dan kuat pada 2027," ungkapnya.
Meski demikian, Schulz memperkirakan tekanan inflasi global belum banyak mereda, sehingga sejumlah bank sentral masih berpotensi menaikkan suku bunga dan mempertahankannya pada tingkat tinggi lebih lama.
Ia menggambarkan perekonomian dunia masih berada dalam fase pertumbuhan, tetapi mulai mendekati tahap siklus yang lebih matang sehingga risiko perlambatan dan gejolak pasar perlu diantisipasi.
"Kami tidak memperkirakan pertumbuhan turun secara signifikan. Kami juga tidak memperkirakan inflasi global turun terlalu banyak," tuturnya.
Dalam paparan AllianzGI, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2027 diperkirakan mencapai 3,1 persen, Amerika Serikat (AS) 2,2 persen, kawasan euro 1,3 persen, dan China 4,4 persen.
Schulz mengatakan pandangan AllianzGI terhadap pertumbuhan global secara umum sejalan dengan konsensus tersebut.
Namun, perusahaan memperkirakan inflasi cenderung lebih tinggi daripada konsensus dan lebih optimistis terhadap pertumbuhan Jerman.
Ia menilai negara berkembang tetap memiliki peluang pertumbuhan struktural lebih besar karena proses mengejar ketertinggalan dari negara maju.
Akan tetapi, kondisi masing-masing negara tidak seragam, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya energi.
Schulz mengakui negara berkembang yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan dalam jangka pendek.