Kondisi tersebut turut memengaruhi daya tarik relatif pasar saham masing-masing negara bagi investor global.
Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sedangkan pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen dalam APBN 2027. Sementara itu, Bank Dunia dalam proyeksi Oktober 2026 memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2027.
Dari sisi pasar keuangan global, Schulz berpandangan pertumbuhan ekonomi pada 2027 masih dapat mendukung kinerja saham.
Adapun obligasi berpeluang semakin menarik apabila pertumbuhan dan inflasi mulai melambat serta suku bunga mencapai tingkat yang memadai.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter dapat mengubah arah pasar. Karena itu, perkembangan kondisi makroekonomi menjadi faktor penting dalam menilai peluang dan risiko investasi.
Schulz menekankan pentingnya Indonesia menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global tersebut.
Ia memandang penyesuaian kebijakan yang tepat berpeluang memperkuat prospek ekonomi nasional dan kepercayaan pasar internasional dalam jangka panjang.
"Untuk itu, dibutuhkan kesinambungan (kebijakan) dan kepercayaan dari pasar internasional," katanya.