NADIKABAR.COM — Kepala Ekonom Allianz Global Investors (AllianzGI) Christian Schulz optimistis prospek jangka panjang ekonomi Indonesia tetap positif meskipun tekanan harga energi dan suku bunga global diperkirakan berlanjut hingga 2027.

Schulz mengatakan gejolak ekonomi internasional menimbulkan tantangan bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, tetapi tidak mengubah pandangannya terhadap potensi pertumbuhan perekonomian nasional dalam jangka panjang.

"Namun, hal itu tidak mengubah pandangan positif jangka panjang kami terhadap negara berkembang, termasuk Indonesia," katanya dalam Media Roundtable bertajuk "Looking Ahead 2027: Global Trends, Indonesia Opportunities" di Jakarta, Senin.

Ia menyebut kenaikan harga energi dan suku bunga global sebagai dua tantangan utama.

Bagi Indonesia, tekanan tersebut dapat meningkatkan biaya impor energi, memengaruhi nilai tukar rupiah, serta menambah beban pembiayaan.

Namun, lanjut dia, tantangan itu dapat menjadi momentum untuk melakukan penyesuaian kebijakan yang memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.

"Masalah-masalah ini bisa diatasi. Bahkan, ini merupakan peluang untuk melakukan perubahan yang memberikan manfaat dalam jangka panjang," ujar dia.

Schulz menilai prospek Indonesia juga ditopang pertumbuhan ekonomi yang relatif tinggi dibandingkan negara maju.

Ia mencontohkan bahwa pertumbuhan di atas lima persen merupakan capaian yang sudah lama tidak terlihat di Eropa.

Secara global, AllianzGI memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap kuat pada 2027, ditopang investasi kecerdasan buatan (AI), belanja pemerintah di sejumlah negara, dan penyesuaian struktur perdagangan dunia.

"Kami memperkirakan pertumbuhan akan tetap solid dan kuat pada 2027," ungkapnya.

Meski demikian, Schulz memperkirakan tekanan inflasi global belum banyak mereda, sehingga sejumlah bank sentral masih berpotensi menaikkan suku bunga dan mempertahankannya pada tingkat tinggi lebih lama.

Ia menggambarkan perekonomian dunia masih berada dalam fase pertumbuhan, tetapi mulai mendekati tahap siklus yang lebih matang sehingga risiko perlambatan dan gejolak pasar perlu diantisipasi.

"Kami tidak memperkirakan pertumbuhan turun secara signifikan. Kami juga tidak memperkirakan inflasi global turun terlalu banyak," tuturnya.

Dalam paparan AllianzGI, pertumbuhan ekonomi dunia pada 2027 diperkirakan mencapai 3,1 persen, Amerika Serikat (AS) 2,2 persen, kawasan euro 1,3 persen, dan China 4,4 persen.

Schulz mengatakan pandangan AllianzGI terhadap pertumbuhan global secara umum sejalan dengan konsensus tersebut.

Namun, perusahaan memperkirakan inflasi cenderung lebih tinggi daripada konsensus dan lebih optimistis terhadap pertumbuhan Jerman.

Ia menilai negara berkembang tetap memiliki peluang pertumbuhan struktural lebih besar karena proses mengejar ketertinggalan dari negara maju.

Akan tetapi, kondisi masing-masing negara tidak seragam, terutama dalam menghadapi kenaikan biaya energi.

Schulz mengakui negara berkembang yang bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia, menghadapi tantangan dalam jangka pendek.

Kondisi tersebut turut memengaruhi daya tarik relatif pasar saham masing-masing negara bagi investor global.

Di Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi tumbuh 5,29 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, sedangkan pertumbuhan kumulatif semester I 2026 mencapai 5,45 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pemerintah menetapkan target pertumbuhan ekonomi sebesar 6,0 persen dalam APBN 2027. Sementara itu, Bank Dunia dalam proyeksi Oktober 2026 memperkirakan ekonomi Indonesia tumbuh 5,2 persen pada 2027.

Dari sisi pasar keuangan global, Schulz berpandangan pertumbuhan ekonomi pada 2027 masih dapat mendukung kinerja saham.

Adapun obligasi berpeluang semakin menarik apabila pertumbuhan dan inflasi mulai melambat serta suku bunga mencapai tingkat yang memadai.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perkembangan geopolitik, inflasi, dan kebijakan moneter dapat mengubah arah pasar. Karena itu, perkembangan kondisi makroekonomi menjadi faktor penting dalam menilai peluang dan risiko investasi.

Schulz menekankan pentingnya Indonesia menjaga momentum pertumbuhan di tengah tantangan global tersebut.

Ia memandang penyesuaian kebijakan yang tepat berpeluang memperkuat prospek ekonomi nasional dan kepercayaan pasar internasional dalam jangka panjang.

"Untuk itu, dibutuhkan kesinambungan (kebijakan) dan kepercayaan dari pasar internasional," katanya.