Dalam kebutuhan produksi: casting director dan sinematografer kerap menerima dana proyek untuk kebutuhan produksi melalui satu rekening sebelum mendistribusikan itu untuk kebutuhan kru ataupun pemeran film. Kondisi itu membuat nilai transaksi yang tercatat dapat lebih besar daripada pendapatan pribadi, sehingga pencatatan penghasilan dan kewajiban pajak menjadi lebih kompleks.

Dalam tantangan nilai karya: penulis dan sutradara memang dapat memiliki karya atau IP dengan nilai komersial di luar pendapatan proyek. Namun, nilai tersebut belum selalu diperhitungkan sebagai aset ekonomi yang dapat memperkuat profil keuangan maupun akses pendanaan.

Dalam tantangan pencatatan keuangan: banyak pekerja film masih bekerja sebagai individu, dengan pencatatan transaksi, kontrak, serta tata kelola finansial dan legal yang belum seragam. Padahal, rekam keuangan dan tata kelola usaha yang lebih tertata dapat menjadi dasar bagi perbankan untuk menilai kelayakan serta kebutuhan pembiayaan produktif.

Menanggapi tantangan tersebut, Amar Bank mengusulkan pendekatan "nurturing" yang adaptif terhadap penilaian profil kelayakan perbankan terhadap pekerja kreatif industri perfilman.

Senior Vice President MSME Amar Bank, Josua Sloane menyatakan bahwa siklus industri film, mulai dari pengembangan hingga monetisasi, sangat berbeda dari sektor usaha konvensional, sehingga arus kasnya tidak bisa disamakan.