NADIKABAR.COM — Bursa saham Indonesia kembali berakhir di zona merah. IHSG pada perdagangan Senin (21/9) turun 0,88% ke posisi 6.384,73.
Sejumlah saham bergerak berlawanan arah. MPRO menguat 3,64%, COIN naik 12,58%, dan TPIA bertambah 2,45%. Sementara itu, saham BYAN turun 5,06%, disusul BBCA yang terkoreksi 1,19% dan TLKM melemah 2,34%.
Tekanan juga terlihat dari aktivitas investor asing. Di pasar reguler, asing mencatatkan net sell Rp503,12 miliar. Jika dihitung di seluruh pasar, nilai net sell mencapai Rp510,07 miliar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, delapan sektor berakhir melemah. Sektor Infrastruktur menjadi yang turun paling dalam dengan koreksi 1,38%. Sebaliknya, sektor Transportasi mencatat kenaikan tertinggi sebesar 0,55%.
Berbeda dengan pasar saham Indonesia, bursa AS ditutup menguat. Dow Jones naik 0,71% ke 52.048, S&P 500 bertambah 1,49% ke 7.764, sedangkan Nasdaq menguat 2,26% ke 27.122.
Penurunan IHSG turut dipengaruhi koreksi BYAN. Saham tersebut mengalami profit taking setelah sebelumnya melonjak 19,96% pada Jumat (18/9). Pergerakan BYAN memberikan tekanan sebesar 11,41 poin terhadap IHSG.
Sentimen regional juga menjadi perhatian setelah FTSE menaikkan status Vietnam menjadi Secondary Emerging Market yang mulai berlaku pada 21 September. Perubahan tersebut memunculkan perhatian terhadap potensi pergeseran alokasi dana asing di kawasan. Pada perdagangan yang sama, indeks ETF EIDO turun 0,88%, sementara MSCI Indonesia melemah 1,13%.
AMMN mencatat perubahan kinerja pada semester I-2026. Perseroan membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$497,93 juta.
Pada periode yang sama tahun sebelumnya, AMMN masih mencatat rugi sebesar US$148,72 juta. Kinerja tersebut berjalan seiring dengan penjualan bersih yang naik 1.024,02% secara tahunan menjadi US$2,05 miliar, dari US$182,59 juta pada semester I 2025.
Pertumbuhan penjualan didukung oleh peningkatan volume produksi, membaiknya kadar bijih Fase 8, serta kenaikan harga komoditas.
Perbaikan kadar bijih tersebut turut membuat AMMN memperbarui target produksi emas dalam konsentrat untuk 2026. Guidance dinaikkan 34% menjadi 775 koz dari sebelumnya 579 koz.
AMMN juga menetapkan target baru untuk produksi katoda tembaga sebesar 130 kt dan emas murni sebesar 350 koz. Pembaruan tersebut dilakukan setelah smelter perseroan memperoleh Project Acceptance Certificate (PAC) pada 24 Juli 2026.