Meskipun unggul atas Lula da Silva, perolehan suara Flavio tidak mencapai ambang batas 50 persen plus satu suara yang sah yang diperlukan untuk meraih kemenangan mutlak. Oleh karena itu, pemilu akan dilanjutkan pada putaran kedua yang dijadwalkan 25 Oktober mendatang.
Jika Flavio kembali unggul atas Lula da Silva dalam putaran kedua nanti, maka Brasil akan mengikuti jejak negara-negara Amerika Latin lainnya yang mengalami pergeseran politik ke arah sayap kanan dalam berbagai pemilu belakangan ini. Tren semacam ini didukung oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Trump sebelumnya mengatakan dirinya memantau pemilu Brasil dengan "sangat cermat", namun tidak secara terang-terangan mendukung Flavio Bolsonaro. Ayah Flavio, Jair Bolsonaro, merupakan sekutu Trump.
Hasil pemilu ini juga mencakup rentetan kemenangan telak bagi kubu sayap kanan di parlemen Brasil, yang menjadi pukulan besar bagi Lula da Silva, politisi senior yang berusia 80 tahun yang mengincar masa jabatan keempat demi mengukuhkan warisan politiknya.
"Saya mengakui saya yakin menang pada putaran pertama. Pertandingan baru saja akan dimulai. Di babak tambahan waktu, kami akan memenangkan hati rakyat Brasil," kata Lula da Silva, yang menyebut pemilu Brasil sebagai pertarungan antara demokrasi dan "barbarisme".