Kondisi serupa juga ditemukan pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Di tingkat SMP, defisiensi gizi didominasi oleh kekurangan asupan folat, kalsium (44%), vitamin C, dan seng.

Sementara pada tingkat SMA, masalah utama yang ditemukan kembali berkisar pada kekurangan folat, kalsium, dan vitamin C. Menanggapi temuan tersebut, SEAMEO RECFON menekankan bahwa kondisi kekurangan zat gizi mikro pada anak tidak bisa disamaratakan di setiap wilayah.

Walaupun hasil riset berperan penting dalam membenahi program gizi di Indonesia, tetapi bukan menjadi evaluasi atas program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hal ini ditegaskan oleh Deputi Direktur Program SEAMEO RECFON, Dr dr Brian Sri Prahastuti.

"Studi yang dilakukan oleh SEAMEO RECFON ini memang dilakukan beberapa tahun yang lalu sebelum Program Makan Bergizi Gratis itu dijalankan oleh Pemerintah Indonesia," katanya.

Menurutnya, temuan ini tidak bisa dijadikan evaluasi MBG karena kebutuhan menu makan bergizi di setiap daerah berbeda. Ia menegaskan studi ini hanya gambaran situasi gizi anak nasional.